Minggu, 29 September 2013

pengertian ikhtilaf



BAB II
PEMBAHASAN
            A, Pengertian Ikhtilaf ( Perbedaan Pendapat )
            Ikhtilaf menurut bahasa adalah perbedaan paham ( pendapat ). Ikhtilaf berasal dari bahasa arab yang asal katanya adalah khalafa, yakhlifu, khilafan ,maknanya lebih umum dari pada Al-dhidu karena setiap hal yang berlawanan  Al-dhiddain pasti akan saling bertentangan muktalifan
            Manusia yang sedang berdebat ( berbeda pendapat ) sering kali berkobar api amarah di dadanya. Mereka saling berbantah dan debat kusir yang biasa di sebut dengan perang mulut. Allah SWT menegaskan dalam Al-qur’an
            ‘’ artinya “ maka berselisihlah golongan-golongan ( yang ada ) di antara mereka, maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar ( Qs. Maryam, 37 )
            Pernyataan Allah dalam Ayat di atas sering terjadi pada diri manusia, karena khilaf[1] dan ikhtilaf[2] memang bisa menimbulkan perbedaan total , baik dalam ucapan, pendapat, sikap maupun pendirian.
            Ikhtilaf menurut istilah adalah berlainan pendapat antara dua atau beberapa orang terhadap satu obyek ( masalah ) tertentu, baik berlaianan itu dalam bentuk “ tidak sama “ ataupun “ bertentangan diametral[3]”.
            Jadi yang dinamakan Ikhtilaf adalah tidak samanya atau bertentangan penilain ( ketentuan ) hukum terhadap satu obyek hukum. [4]
            Sedangkan yang dimaksud Ikhtilaf dalam pembahasan disini, adalah perbedaan pendapat di antara ahli hukum islam ( fuqoha ) dalam menetapkan sebagian hukum islam yang bersifat furu’iyyah[5] , bukan pada masalah hukum islam yang bersifat ushuliyyah ( pokok-pokok hukum islam ) disebabkan perbedaan pemahaman atau perbedaan metode dalam menetapkan hukum suatu masalah dan lain-lain. Misalanya perbedaan pendapat fuqoha tentang hukum wudhu seorang lelaki yang menyentuh perempuan dan hukum membaca surah Al-fatihah bagi ma’mun yang sholat. Dan lain-lain.
Perdebatan Ulama tentang hukum membaca Al Fatihah bagi para makmum, apakah wajib, sunah, atau justru dilarang? Permasalahan ini melibatkan beberapa dalil yang membuat permasalahannya menjadi sangat sulit untuk dipecahkan.
Di antara dalil-dalil itu ada yang sepertinya memerintahkan makmum untuk membacanya secara mutlak:
(a) Dari Ubadah bin Shomit, Nabi SAW bersabda, tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (HR. Al Bukhari, Muslim dan Ahmad)
(b) Dari Aisyah, Nabi saw bersabda, Barangsiapa sholat sesuatu sholat yang di dalamnya tidak membaca Ummul Kitab maka sholatnya itu kurang, tidak sempurna (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
(c) Dari Ubadah bin Shomit, Nabi SAW bersabda, tidak cukup suatu sholat yang didalamnya seseorang tidak membaca Fatihatul Kitab (HR. Ad Daaru Qudniy)
(d) Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, Barangsiapa sholat sesuatu sholat yang di dalamnya tidak membaca Ummul Kitab maka sholatnya itu kurang, tidak sempurna. Maka dikatakan kepada Abu Hurairah, sesungguhnya kami berada di belakang imam, Maka berkata (Abu Hurairah), bacalah untuk dirimu. (HR. Muslim)
(e) Dari Abu Hurairah, berkata, aku mendengar Nabi SAW bersabda, tidak cukup suatu sholat yang didalamnya seseorang tidak membaca Fatihatul Kitab, Aku berkata, Apabila aku dibelakang seorang imam? Maka beliau memegang tanganku dan bersabda, bacalah pada dirimu, iqra fii nafsika (HR. Muslim)
(f) Dari Ubadah bin Shomit, Nabi SAW bersabda, Sesungguhnya aku mengetahui kamu membaca di belakang imam kalian?. Ubadah berkata, kami mengatakan, benar, ya Rasulullaah, demi Allah. Kemudian Nabi bersabda, jangan kalian lakukan itu kecuali Ummul Quran, sebab tidak ada sholat bagi orang yang tidak membacanya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
(g) Dalam lafadz lain, jangan kamu membaca sedikit pun dari Al Quran, apabila aku keraskan bacaannya, kecuali dengan (membaca) Ummul Quraan. (HR. Abu Dawud, An Nasai, Ad Daaru Qudniy)
(h) Dalam lafadz lain, jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu membaca sesuatu dari Al Quran, apabila aku membaca Al Quran dengan keras, kecuali dengan (membaca) Ummul Quraan. (HR. Ad Daaru Qudniy)[6]
            Perbedaan pendapat dalam hukum Islam bagaikan buah yang banyak berasal dari satu pohon, yaitu Al-qur’an dan Sunnah, bukan sebagai buah yang banyak yang berbagai dari banyak pohon, akar dan batang pohon itu adalah Al-qur’an dan Sunnah, cabang-cabangnya adalah dalil-dalil naqli dan ‘aqli , sedangkan buahnya adalah hukum Islam ( fiqih ) miskipun berbeda-beda atau banyak jumlahnya.[7]
Yang menarik, dalam mengemukakan berbagai pendapatnya, ulama-ulama Islam, terutama yang diakui secara luas keilmuannya, mampu menunjukkan kedewasaan sikap, toleransi, dan objektivitas yang tinggi. Mereka tetap mendudukkan pendapat mereka di bawah Al Qur'an dan Hadits, tidak memaksakan pendapat, dan selalu siap menerima kebenaran dari siapa pun datangnya. Dapat dikatakan, mereka telah menganut prinsip relativitas pengetahuan manusia. Sebab, kebenaran mutlak hanya milik Allah subhanahu wata'ala. Mereka tidak pernah memposisikan pendapat mereka sebagai yang paling absah sehingga wajib untuk diikuti.

"Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar." Demikian ungkapan yang sangat populer dari Imam Syafi'i.

           Imam Ahmad bin Hambal pernah berfatwa agar imam hendaknya membaca basmalah dengan suara dikeraskan bila memimpin shalat di Madinah. Fatwa ini bertentangan dengan mazhab Ahmad bin Hambal sendiri yang menyatakan bahwa yang dianjurkan bagi orang yang shalat adalah mengecilkan bacaan basmalahnya. Tapi fatwa tersebut dikeluarkan Ahmad demi menghormati paham ulama-ulama di Madinah, waktu itu, yang memandang sebaliknya. Sebab, menurut ulama-ulama Medinah itu,  orang yang shalat, lebih utama bila ia mengeraskan bacaan basmalahnya.[8]
            B. Sebab-sebab terjadinya Ikhtilaf
Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru, apalagi dapat dianggap tabu. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.
Untuk bidang hukum Islam, misalnya. Kita bisa melihat kitab Al Mughni karya Imam Ibnu Qudamah. Pada terbitannya yang terakhir, kitab ini dicetak 15 jilid. Kitab ini dapat dianggap sebagai ensiklopedi berbagai pandangan dalam bidang hukum Islam dalam berbagai mazhabnya. Karena Ibnu Qudamah tidak membatasi diri pada empat mazhab yang populer saja. Tapi ia juga merekam pendapat-pendapat ulama lain yang hidup sejak masa sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in. [9]
Contoh ini berlaku pada semua disiplin ilmu Islam yang ada. Tidak terbatas pada ilmu hukum saja, seperti yang umumnya kita kenal, tapi juga pada tafsir, ulumul qur'an, syarah hadits, ulumul hadits, tauhid, usul fiqh, qawa'id fiqhiyah, maqashidus syariah, dan lain-lain.
Dalam perkembangan hukum Islam, perbedaan pendapat mengenai penetapan hukum beberapa masalah hukum, telah terjadi di kalangan para sahabat Nabi SAW. Ketika beliau masih hidup, tetapi perbedaan pendapat itu segera dapat di pertemukan dengan mengembalikannya kepada Rasulullah SAW. Setelah beliau wafat, maka sering timbul dikalangan sahabat perbedaan pendapat dalam menetapkan hukum terhadap masalah ( kasus ) tertentu.
            Terjadinya perbedaan pendapat dalam menetapkan hukum Islam, disamping disebabkan oleh faktor yang bersifat manusiawi, juga oleh faktor lain karena adanya segi-segi khusus yang bertalian dengan agama. Faktor penyebab itu mengalami perkembangan sepanjang sepanjang pertumbuhan hukum pada generasi berikutnya, makin lama makin berkembang sepanjang sejarah hukum islam, sehingga kadang-kadang menimbulkan pertentangan keras, utamanya dikalangan orang-orang awam. Tetapi pada masa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini, masalah khilafiah  tidak begitu di persoalkan lagi, apabila ikhtilaf ini hanya dalam masalah furu’iyah yang terjadi karena perbedaan dalam berijtihad. [10]
            Syekh Muhammad Al-Madany dalam bukunya asbab ikhtilaf al-fuqoha , membagi sebab-sebab ikhtilaf itu kepada empat macam.
            a, pemahaman Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
            b. sebab-sebab khusus tentang Sunnah Rasulullah SAW.
c. sebab-sebab yang berkenaan dengan kaidah-kaidah Ushuliyah atau    Fiqhiyyah,
d. Sebab-sebab yang khusus mengenai penggunaan dalil di luar Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
            Penjelasan dari macam-macam Ikhtilaf di atas sebagai berikut
            1, Pemahaman Al-Qur’an dan Al-Sunnah
            Seperti di maklumi, sumber utama Syari’at Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Keduanya berbahasa Arab. Diantara kata-katanya ada yang mempunya arti lebih dari satu ( mustarak ) , selain itu kata ungkapannya terdapat kata ‘am (umum ) tetapi yang di maksudkannya khusus, adapula perbedaan tinjauan dari segi Lughowi dan ‘urfi serta dari segi mantuq dan mafhumnya,
            2. Sebab-sebab khusus mengenai Sunnah Rasulullah SAW
            a, Perbedaan dalam penerimaan Hadis
            Hal ini di sebabkan karena para Sahabat yang menerima dan menyampaikan ( meriwayatkan ) Hadist, kesempatannya tidak sama. Ada yang bannyak menghadiri majelis Rasul tentunya mereka lebih banyak menerima Hadist sekaligus meriwayatkannya, ada pula mereka yang sibuk dengan urusan pribadinya,
            b. Perbedaan dalam menilai periwayatan Hadist
            Adakalanya sebagian Ulama memandang periwayatan suatu Hadist Shohih, sedangkan menurut ulama yang lain tidak, misalnya karena mereka tidak memenuhi semua persyaratan yang telah mereka tentukan. Penilaian ini meliputi segi Sanad, maupun Matannya.
            c, Ikhtilaf tentang kedudukan Rasulullah SAW
            Sebagaimana dimaklumi, bahwa Rasul disamping keberadaannya sebagai Rasul, juga sebagai manusia biasa, ( Qs, al-kahfi :110 ). Kadang-kadang beliau bertindak sebagai panglima perang, sebagai kepala Negara dan sebagainya. Karena itu tindakan dan ucapan yang dilakukan beliau tidak sama kedudukannya, kalau di artikan dengan keberadaan pribadinya ketika melakukannya,
            d. Perbedaan mengenai Qowa’id Ushuliyah dan Qowa’id Fiqhiyyah
            Sebab-sebab perbedaan pendapat yang berkaitan dengan kaidah-kaidah Ushul diantaranya adalah mengenai Istitsna ( pengecualian ) yakni apakah Istitsna’ yang terdapat sesudah beberapa jumlah yang di Athofkan satu sama lainnya, kembali kepada semuanya ataukah kepada jumlah terahirnya saja ?
            Jumhur Fuqoha  berpendapat , bahwa Istitsna itu kembali kepada keseluruhannya. Sedangkan menurut Abu Hanifah, Istitsna itu hanya kembali kepada jumlah terahirnya.[11]
            e. Perbedaan penggunaan Dalil di luar Al-qur’an dan Sunnah
            Ulama terkadang berbeda pendapat pula mengenai fiqih, disebabkan perbedaan penggunaan dalil di luar Al-qur’an dan Sunnah,
            Sebab-sebab perbedaan pendapat ( Ikhtilaf ) dapat di simpulkan bahwa
            1, Perbedaan Ulama mengenai sumber hukum yang utama ( Al-qur’an) adalah dari segi pemahaman semata-mata terhadap Nash-Nash yang Zhanny ( tidak pasti ) dalalahnya.
            2, perbedaan mengenai sumber hukum yang kedua, yakni Sunnah Rasul, yakni dari Wurud ( penilaian terhadap sanad dan sebagian matan Hadist )
            3. perbedaan pendapat dalam islam, bukanlah mengenai persoalan dasar (pokok ) baik dikalangan Ahlul Al-Sunnah, maupun Syi’ah dan Muttazilah, melainkan perbedaan pandangan dan penilaian terhadap Nushush ( Al-qur’an dan Sunnah )
            C. Hikmah adanya Ikhtilaf dan implikasinya dalam kehidupan masyarakat
            Khilafiyah dalam hukum Islam merupakan Khazanah. Bagi orang-orang yang kurang memahami watak kitab-kitab Fiqih yang banyak memuat masalah-masalah hukum yang diperselisihkan hukumnya, sering beranggapan bahwa fiqih itu sebgai pendapat pribadi yang di transfer kedalam agama. Padahal jika mereka mau mengkaji secara mendalam, pasti mereka menemukan bahwa ketentuan hukum Islam itu bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.[12]
            Fiqih, sebagai hasil Ijtihad Ulama dan tidak lepas dari sumbernya ( Al-qur’an dan Al-Sunnah ) otomatis akan mengandung keragaman hasil ijtihad itu, namun demikian, Nampak pada jati diri pada Ulama Mazhab adanya sikap sportif dan toleran apabila dihadapkan pada fenomena tersebut.
            Ikhtilaf yang mengikuti ketentuan-ketentuan akan memberikan manfaat, jika didasarkan pada hal-hal berikut ini.
Pertama : niatnya jujur dan menyadari akan tanggung jawab bersama. Ini bisa dijadikan salah satu dalil dari sekian model dalil.
Kedua : Ikhtilaf yang digunakan untuk mengasah otak dan untuk memperluas cakrawala berfikir.
Ketiga : memberikan kesempatan berbicara kepada lawan bicara atau pihak lain yang berbeda pendapat dan bermu’amalah dengan manusia lainnya yang menyangkut kehidupan di seputar mereka.
            Faedah dan manfaat dari Ikhtilaf dapat di peroleh bila dalam berikhtilaf itu berpijak pada ketentuan dan adab yang terkandung didalamnya. Namun, jika ketentuan dan batasan itu di langgar, maka sudah pasti akan menimbulkan perpecahan. Hal ini akan melahirkan kesulitan dan kejahatan, sehingga dapat mengganggu kehidupan Ummat, jika begitu keadaannya, maka Ikhtilaf akan berubah menjadi ajang kehancuran.
            D. Faktor-faktor  yang melatar belakangi lemahnya sebuah Ikhtilaf ( perbedaan pendapat ) antara lain:
1.Rendahnya pemahaman agama. Hal ini, misalnya, dapat lahir dari penguasaan bahasa Arab yang minim. Akibat langsungnya, akses terhadap Al Qur'an, Hadits serta literatur-literatur induk ajaran Islam otomatis jadi terbatas pula.

Sayangnya, rendahnya pemahaman agama ini tidak mampu menekan semangat tinggi sebagian orang untuk berijtihad. Padahal ijtihad memerlukan ulama dengan kualifikasi dan tingkat kompetensi serta kapasitas keilmuan yang tinggi. Karena tidak memiliki itu semua, akhirnya yang diandalkan adalah sekadar lontaran-lontaran pemikiran namun tanpa landasan metodologi yang jelas.[13]
Rendahnya kualitas pemahaman agama bisa juga akibat dari rendahnya mutu pendidikan Agama secara umum. Salah satu pemicunya, input sekolah-sekolah Agama yang biasanya "sisa" calon siswa yang tidak mampu bersaing memperebutkan kursi sekolah favorit. Bukan rahasia lagi bila sekolah-sekolah agama masih sering dianggap sekadar pelarian bagi mereka yang tidak lulus di sekolah-sekolah unggulan.
2.Memperturutkan hawa nafsu, baik itu karena mengejar popularitas, materi, atau kepentingan-kepentingan sesaat lainnya. Al Qur'an menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu.
"Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. 45: 23)

Fenomena memperturutkan hawa nafsu ini misalnya dapat dilihat dari penolakan secara sembarangan  terhadap Hadits dengan klaim bertentangan dengan Al Qur'an. Selanjutnya menjadikan sejarah sebagai sumber pemahaman agama. Padahal sejarah bukanlah agama. Sejarah bukan pula "guru agama" (adillah syar'iyyah mu'tabarah).
3. Konflik dan permusuhan. Kebencian atau sikap tidak senang kepada pihak lain kerap melahirkan subjektivitas yang berlebihan. Pada gilirannya, sikap ini akan berujung pada sikap ujub dan akhirnya penolakan terhadap kebenaran.

4.Mengabaikan manhaj nabawi dalam mempelajari agama dengan mengandalkan pemikiran-pemikiran sesaat serta analisis yang prematur. Metodologi ilmiah yang diperkenalkan ulama, seperti musthalahul hadits, balaghah, ushul fiqh, dsj. sebenarnya adalah metode standar yang disarikan dari ajaran Islam itu sendiri untuk menjadi parameter dalam mengukur tingkat kesahihan atau keilmiahan suatu pendapat.

            E. Tujuan mengetahui sebab terjadinya Ihtilaf
            Mengetahui sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat para Imam Mazhab dan para Ulama Fiqih, sangat penting untuk membantu kita, agar keluar dari Taklid buta, karena kita akan mengetahui dalil-dalil yang mereka pergunakan serta jalan pemikiran mereka  dalam penetapan hukum suatu masalah. Sehingga dengan demikian akan terbuka kemungkinan untuk memperdalam studi tentang hal yang di perselisihkan, meneliti sistem dan cara yang lebih baik serta tepat dalam mengistinbatkan hukum, juga dapat kengembangkan kemampuan dalam hukum Fiqih, bahkan akan terbuka kemungkinan untuk menjadi Mujtahid.
            Disamping itu, apabila diketahuai bahwa sebab yang menimbulkan perbedaan tersebut kurang tepat dijadikan alasan, maka akan diusahakan untuk mendudukannya pada proporsi yang tepat. Sebagaimana telah diketahui, bahwa sebagian besar yang mereka pergunakan  adalah Hadist, sedangkan Hadist dikala itu belum di bukukan, sehingga mungkin saja masih banyak hadist yang tidak diterima oleh mereka dan ada Hadist yang sudah mereka peroleh, tetapi mereka menolaknya, karena di ragukan kebenarannya dari Nabi SAW.
Setelah generasi mereka, Ilmu Hadist sudah tersusun, sehingga diketahui mana yang Shohih dan mana hadist yang Dhoif, jadi kalau ternyata ada fatwa sahabat atau generasi sahabat itu didasarkan pada Ra’yu saja karena tiada ditemukan hadist dalam suatu masalah, maka dengan adanya Hadis Shohih yang bertalian dengan masalah tersebut, tentu hukum yang mereka telah tetapkan tidak boleh ditinjau kembali dan tidak perlu dicari-cari alasan untuk membela alasan mereka , karena  mereka sendiri sepakat, bahwa sepanjang Hadist ( Nash ) terutama yang Shohih maka Ra’yu harus dikesampingkan.[14]
           



















KESIMPULAN
Ikhtilaf menurut bahasa adalah perbedaan paham ( pendapat )
Ikhtilaf menurut istilah adalah berlainan pendapat antara dua atau beberapa orang terhadap satu obyek ( masalah ) tertentu, baik berlaianan itu dalam bentuk “ tidak sama “ ataupun “ bertentangan diametral
Ikhtilaf berarti berselisih tidak sepaham. Sedangkan secara terminology fiqih ikhtilaf adalah perselisihan paham atau pendapat di kalangan para ulama fiqih sebagai hasil ijtihad untuk mendapatkan dan menetapkan suatu ketentuan hukum tertentu.
Sebab-sebab ikhtilaf yaitu:[15]
·         Perbedaan pemahaman tentang lafadz nash.
·         Perbedaan dalam masalah hadits.
·         Perbedaan dalam pemahaman dan penggunaan kaidah penggunaan kaidah lughawiyah nash.
·         Perbedaan dalam mentarjihkan dalil-dalil yan berlawanan.
·         Perbedaan tentang qiyas.
·         Perbedaan dalam penggunaan dalil-dalil hukum.
·         Perbedaan dalam masalah nash
·         Perbedaan dalam pemahaman illat hukum.
Tujuan kajian ini adalah untuk menghindari ta’asub (fanatik) buta, sehingga tidak terjadi friksi dengan pihak/golongan lain. Pada prakteknya ternyata memang banyak friksi di lapangan yang seharusnya tidak mesti terjadi. Hal ini karena ketidaktahuan atau kurangnya informasi yang benar tentang mazhab2 yang ada.

Semua imam mazhab sepakat bahwa pijakannya tetap Quran dan Hadits, ucapan mereka tentang ajakan untuk kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadits, walaupun dengan redaksinya berbeda-beda. Maka seperti imam Syafi’i pernah mengatakan: “jika sebuah hadits itu shahih, maka itulah mazhabku.” Amatlah mungkin imam yang empat itu tidak mengetahui adanya hadits shahih selain pendapat (ra'yu) yang mereka miliki. Karena sarana/prasarana saat itu masih belum semodern sekarang.







DAFTAR PUSTAKA

Tahido Yango,Huzaemah, pengantar perbandingan mazhab, Jakarta: Gaung Persada.1996
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/
Ibn Taimiyah (w. 728 H.), Majmu' ar Rasa'il al Muniriyah
Ibn Qudamah (w. 620 H.), al Mughni,
Hasbi Ash-Shiddiqie ,Muhammad,  pengantar hukum Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra) 2001,



[1] khi·laf a keliru; salah (yg tidak disengaja);
[2] ikh·ti·laf Ar n perbedaan (pendapat, pikiran): masih ada -- di kalangan ulama dl hal itu
[3] di·a·met·ral /diamétral/ a spt diameter; terbagi dua (oleh garis pemisah); terpisah secara berhadap-hadapan:
[4] Huzaemah Tahido Yango, pengantar perbandingan mazhab,1996 : Jakarta : hlm 54
[5] Secara etimologis atau secara bahasa, furu’iyah berarti perbedaanperbedaan-perbedaan pandangan, pola fikir, pendapat, faham, dan berbagai perbedaan lain yang seringkali memicu perpecahan.
[6] http://staiimamsyafii.blogdetik.com/fiqh-ikhtilaf/
[7] Ibid , hlm 55
[8] : Ibn Taimiyah (w. 728 H.), Majmu' ar Rasa'il al Muniriyah
[9] Ibn Qudamah (w. 620 H.), al Mughni, Juz VI
[10] Opcit, pengantar perbandingan mzahab, hlm 57
[11] Opcit, pengantar perbandingan mazhab , hlm 70
[12] Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqie,  pengantar hukum Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra) 2001, hal. 284



[13] Umar bin Khattab berkata, "Hati-hatilah terhadap manusia yang hanya mengandalkan logika semata (dalam masalah agama). Mereka adalah musuh Sunnah. Mereka tidak berdaya menghapal hadits-hadits, makanya mereka cuma memakai logika. Mereka sesat dan menyesatkan." Dikutip oleh Ibn Qudamah, Raudhah an Nazhir wa Junnah al Munazhir (Beirut: Dar al Kutub al 'Ilmiyah, 1994), h. 149

[14] Opcit. Pengantar Perbandingan mazhab. 77
[15] Ahmad satori Ismail, , Pasang Surut Perkembangan Fiqh Islam, Jakarta : Pustaka Tarbiatuna, Cet. I, 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen