Selasa, 25 April 2017

AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER DAN DALIL HUKUM ISLAM

BAB 1
1.      AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER DAN DALIL HUKUM ISLAM
Atas dasar bahwa hukum syara’ itu adalah kehendak Allah tentang tingkah laku manusia mukallaf, maka dapat dikatakan bahwa pembuat hukum (law gider) adalah Allah SWT.KetentuanNya terdapat dalam kumpulan wahyuNya yang disebut Al Qur’an.Dengan demikian ditetapkan bahwa Al Qur’an itu sumber utama bagi hukum Islam, sekaligus juga sebagai dalil utama fiqih.Al-Qur’an itu membimbing dan memberikan petunjuk untuk menemukan hukum-hukum yang terkandung dalam sebagian ayat-ayatnya. Karena kedudukan Al-Qur’an itu sebagai sumber utama dan pertama bagi penempatan hukum, maka bila seseorang ingin menemukan hukum untuk suatu kejadian, tindakan pertama yang harus ia lakukan adalah mencari jawab penyelesaiannya dari Al-Qur’an. Selama hukumnya dapat diselesaikan dengan Al-Qur’an, maka ia tidak boleh mencari jawaban lain di luar Al-Qur’an.
Selain itu, sesuai dengan kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber utama atau pokok hukum Islam, berarti al-Quran itu menjadi sumber dari segala sumber hukum. Karena itu jika akan menggunakan sumber hukum lain di luar Al-Qur’an, maka harus sesuai dengan petujuk al-Qur’an dan tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan al-Qur’an.
Hal ini berarti bahwa sumber hukum selain al-Qur’an tidak boleh menyalahi apa-apa yang telah ditetapkan al-Qur’an.Kekuatan hujjah al-Qur’an sebagai sumber dan dalil hukum fiqh terkandung dalam ayat al-Qur’an yang menyuruh umat manusia mematuhi Allah.Hal ini disebutkan lebih dari 30 kali dalam al-Qur’an.Perintah mematuhi Allah itu berarti mengikuti apa-apa yang difirmankanNya dalam al-Qur’an.
2.1 Pengertian Al-Qur’an
Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat di sekitar pengertian al-Qur’an baik dari bahasa maupun istilah. As-Syafi’i misalnya mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari kata apa pun, dan bukan pula ditulis dengan hamzah. Lafadz tersebut sudah lazim dipergunakan dalam pengertian kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sementara Al-Farra berpendapat bahwa lafadz al-Qur’an berasal dari kata qarain jamak dari kata qarinah yang berarti kaitan ; karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat al-Qur’an itu satu sama lain saling berkaitan. Selanjutnya Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafadz al-Qur’an diambil dari akar kata qarn yang berarti menggabungkan sesuatu atas yang lain; karena surah-surah dan ayat-ayat al-Qur’an satu dan lainnya saling bergabung dan berkaitan.
Pengertian-pengertian kebahasaan yang berkaitan dengan al-Qur’an tersebut sungguh pun berbeda tetapi masih dapat ditampung oleh sifat dan karakteristik al-Qur’an itu sendiri, yang antara lain ayat-ayatnya saling berkaitan satu dan lainnya.Oleh karena itu penulis mencoba pula untuk memaparkan pengertian al-Qur’an secara etimologis dan terminologis berdasarkan pendapat beberapa ahli.
Secara etimologis, al-Qur’an merupakan Masdar dari kata kerja “Qoroa” yang berarti bacaan atau yang ditulis, sedang menurut Quraish Shihab berarti bacaan yang sempurna.
Kitab Al-Qur’an secara terminologis ditemukan dalam beberapa rumusan defenisi sebagai berikut:
1. Menurut Syaltut, Al-Qur’an adalah lafaz Arabi yang diturunkan kepada Nabi MuhammadSAW, dinukilkan kepada kita secara mutawatir
2. Al-Syaukani mengartikan Al-Qur’an dengan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tertulis dalam mushhaf, dinukilkan secara mutawatir
3. Al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustasfa menjelaskan bahwa Al-Qur’an yaitu merupakan firman Allah SWT
4. Defenisi Al-Qur’an yang dikemukakan Abu Zahrah ialah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
5. Menurut al-Sarkhisi, Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushaf, diturunkan dengan huruf yang tujuh yang masyhur dan dinulikan secara mutawatir
6. Al-Amidi memberikan ta’rif Al-Qur’an, al-kitab adalah Al-Qur’an yang diturunkan
7. Ibn Subki mendefenisikan, Al-Qur’an adalah lafaz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, mengandung mu’jizat setiap suratnya dan merupakan ibadah bagi yang membacanya
8. Menurut Zakaria al-Birri, yang dimaksud al-Qur’an adalah Al-Kitab yang disebut al-Qur’an dalah kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW dengan lafal Bahasa Arab, dinukil secara mutawatir dan tertulis pada lembaran-lembaran mushaf.
9. Safi’ Hasan Abu Thalib menyebutkan Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dengan lafal Bahasa Arab dan maknanya dari Allah SWT melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.Ia merupakan dasar dan sumber utama bagi syariat.
Dengan menganalisis unsur-unsur setiap defenisi di atas dan membandingkan antara satu defenisi dengan lainnya, dapat ditarik suatu rumusan mengenai defenisi Al-Qur’an, yaitu lafaz berbahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.yang dinukilkan secara mutawatir.
Defenisi ini mengandung beberapa unsur yang menjelaskan hakikat Al-Qur’an, yaitu:
1. Al-Qur’an itu berbentuk lafaz. Ini mengandung arti bahwa apa yang disampaikan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk makna dan dilafazkan Nabi dengan ibaratnya sendiri tidaklah disebut Al-Qur’an. Umpamanya hadits qudsi atau hadits qauli lainnya, karenanya tidak ada ulama yang mengharuskan berwudhu jika hendak membacanya.
2. Al-Qur’an itu adalah berbahasa Arab. Ini mengandung arti bahwa Al-Qur’an yang dialih bahasakan kepada bahasa lain atau yang diibaratkan dengan bahasa lain bukanlah Al-Qur’an, karenanya salat yang menggunakan terjemahan Al-Qur’an, tidak sah.
3. Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ini mengandung arti bahwa wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi-nabi terdahulu tidaklah disebut Al-Qur’an, tetapi yang dihikayatkan dalam Al-Qur’an tentang kehidupan dan syariat yang berlaku bagi umat terdahulu adalah Al-Qur’an.
4. Al-Qur’an itu dinukilkan secara mutawatir. Ini mengandung arti bahwa ayat-ayat yang tidak dinukilkan dalam bentuk mutawatir bukanlah Al-Qur’an.Karenanya ayat-ayat shazzah atau yang tidak mutawatir penukilannya tidak dapat dijadikan hujjah dalam istimbath hukum.
Disamping 4 unsur pokok tersebut, ada beberapa unsur sebagai penjelasan tambahan yang ditemukan dalam sebagian dari beberapa defenisi Al-Qur’an di atas, yaitu:
a. Kata-kata “mengandung mu’jizat setiap suratnya”, memberi penjelasan bahwa setiap ayat Al-Qur’an mengandung daya mu’jizat. Oleh karena itu hadits tidak mengandung daya mu’jizat.
b. Kata-kata “beribadah membacanya”, memberi penjelasan bahwa dengan membaca Al-Qur’an berarti melakukan suatu perbuatan ibadah yang berhak mendapat pahala. Karenanya membaca hadits qudsi yang tidak mengandung daya ibadah seperti Al-Qur’an, tidak dapat disebut Al-Qur’an.
c. Kata-kata tertulis dalam mushhaf (dalam defenisi Syaukani dan Sarkhisi), mengandung arti bahwa apa-apa yang tidak tertulis dalam mushhaf walaupun wahyu itu diturunkan kepada Nabi, umpamanya ayat-ayat yang telah dinasakhkan, tidak lagi disebut Al-Qur’an.

2.2 Kehujjahan Al-Qur’an
Sebagaimana disebutkan oleh Abdul Wahab Khallaf, bahwa kehujjahan Al-Qur’an itu terletak pada kebenaran dan kepastian isinya yang sedikitpun tidak ada keraguan atasnya. Dengan kata lain Al-Qur’an itu betul-betul datang dari Allah dan dinukil secara qat’iy (pasti). Oleh karena itu hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an merupakan aturan-aturan yang wajib diikuti oleh manusia sepanjang masa. Sementara M. Quraish Shiha menjelaskan bahwa al-Qur’an sebagai wahyu , merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, tetapi fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Sebagai sumber ajaran Islam yang utama al-Qur’an diyakini berasal dari Allah dan mutlak benar.Keberadaan al-Qur’an sangat dibutuhkan manusia.Di kalangan Mu’tazilah dijumpai pendapat bahwa Tuhan wajib menurunkan al-Qur’an bagi manusia, karena manusia dengan segala daya yang dimilikinya tidak dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya.Bagi Mu’tazilah al-Qur’an berfungsi sebagai konfirmasi, yakni memperkuat pendapat-pendapat akal pikiran, dan sebagai informasi terhadap hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal. Di dalam al-Qur’an terkandung petunjuk hidup tentang berbagai hal walaupun petunjuk tersebut terkadang bersifat umum yang menghendaki penjabaran dan perincian oleh ayat lain atau oleh hadis. Petunjuk al-Qur’an terkadang memang bersifat global sehingga menerapkannnya perlu ada pengolahan dan penalaran akal manusia, dan karena itu pula al-Qur’an diturunkan untuk manusia berakal.Kita misalnya disuruh spuasa, haji dan sebagainya.Tetapi cara-cara mengerjakan ibadah tersebut tidak kita jumpai dalam al-Qur’an, melainkan dalam hadis Nabi yang selanjutnya dijabarkan oleh para ulama sebagaimana kita jumpai dalam kitab-kitab fiqih.
Dengan demikian jelas bahwa kehujjahan (argumentasi) Al-Qur’an sebagai wahyu tidak seorangpun mampu membantahnya, disamping semua kandungan isinya tak satupun yang bertentangan dengan akal manusia sejak awal diturunkan hingga sekarang dan seterusnya.Lebih-lebih di abad modern ini, di mana perkembangan sains modern sudah sampai pada puncaknya dan kebenaran Al-Qur’an semakin terungkap serta dapat dibuktikan secara ilmiah.

2.3 Pengertian Sumber dan Dalil
Secara etimologi (bahasa) sumber berarti asal dari segala sesuatu atau tempat merujuk sesuatu. Adapun secara terminologi ( istilah ) dalam ilmu ushul, sumber diartikan sebagai rujukan yang pokok atau utama dalam menetapkan hukum Islam, yaitu berupa Alquran dan Al-Sunnah. Dalil, secara bahasa artinya petunjuk pada sesuatu baik yang bersifat material maupun yang bersifat nonmaterial. Sedangkan menurut Istilah, suatu petunjuk yang dijadikan landasan berfikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis, baik yang kedudukannya qath'i ( pasti ) atau Dhani (relatif). Atau dengan kata lain, dalil adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada madlul. Madlul itu adalah hukum syara' yang amaliyah dari dalil. Untuk samapai kepada madlul memerlukan pemahaman atau tanda penunjuknya ( dalalah ).
a. Dalil ditinjau dari segi asalnya
Ditinjau dari asalnya, dalil ada dua macam:
1) Dalil Naqli yaitu dalil-dalil yang berasal dari nash langsung, yaitu Alquran dan al-Sunnah.
2) Dalil aqli, yaitu dalil - dalil yang berasal bukan dari nash langsung, akan tetapi dengan menggunakan akal pikiran, yaitu Ijtihad.
Bila direnungkan, dalam fiqih dalil akal itu bukanlah dalil yang lepas sama sekali dari Alquran dan al-Sunnah, tetapi prinsif-prinsif umumnya terdapat dalam Alquran dan Al-Sunnah.
b. Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya
Dalil ditinjau dari ruang lingkupnya ada dua macam, yaitu:
1) Dalil Kully yaitu dalil yang mencakup banyak satuan hukum. Dalil Kulli ini adakalaya berupa ayat Alquran, dan berupa hadits, juga adakalanya berupa Qaidahqaidah Kully
2) Dalil Juz'i, atau Tafsili yaitu dalil yang menunjukan kepada satu persoalan dan satu hukum tertentu.
c. Dalil ditinjau dari daya kekuatannya
Dalil ditinjau dari daya kekuatannya ada dua, yaitu:
1) Dalil Qath'i, Dalil Qath'i ini terbagi kepada dua macam, yaitu :
a) Dalil Qath'i al-Wurud, yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah (Al-quran) atau dari Rasulullah (Hadits Mutawatir).Alquran seluruhnya Qath'i wurudnya, dan tidak semua hadits qath'i wurudnya.
b) Dalil Qath'i Dalalah, yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya menunjukan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain.
2) Dalil Dhanni, terbagi kepada dua macam pula yaitu: Dhanni al-Wurud dan Dhanni al-Dalalah.
a) Dhanni al-Wurud, yaitu dalil yang memberi kesan yang kuat atau sangkaan yang kuat bahwa datangnya dari Nabi saw. Tidak ada ayat al-Quran yang dhanni wurud, adapun hadits ada yang dhanni wurudnya yaitu hadits ahad.
b) Dhanni al-Dalalah, yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberi kemungkinan-kemungkinan arti dan maksud lebih dari satu. Tidak menunjukan kepada satu arti dan maksud tertentu.

2.4 Urutan Sumber Hukum
Sumber hukum yang telah disepakati oleh para ulama fiqih adalah Al-Quran dan al-Sunnah. Sedangkan yang lainnya; Ijma, Qiyas, Ishtishhab, Istihsan, mashlahah mursalah, Saddu zdara'i, Urf, istihsan, hukum bagi umat sebelum kita, mazdhab shahabi, ada yang menggunakan dan adapula yang tidak menggunakan.
Bila diurut, maka sumber hukum itu urutannya sebagai berikut :
1) Al-Quran
2) Al-Sunnah
3) Ijtihad, yang meliputi pada: Al-Ijma, al-Qiyas, Al-Ishtishhab, al-mashlahah Mursalah, Saddu zdara'i, Istihsan, Uruf, Syar'un man Qablana, Mazdhab shahabi.
Urutan sumber hukum di atas berdasarkan kepada dialog Nabi SAW dengan Muadz ketika beliau di utus ke Yaman menjadi Gubernur di sana.
Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan di bawah ini!
1. Jelaskan pengertian dari Al-quran?
2.
BAB 2
2.      DEFINISI SUNNAH DAN RUANG LINGKUPNYA
Sunnah menururt bahasa adalah jalan yang dikutiatau kebiasaan yang baik atupun buruk yang ditentukan dengan cara penafsiran ataupun penisbatan.
Dalam penisbatan kata sunnah bisa berupa pujian atau celaan, bergantung pada apa yang dinisbatkan kepadanya.
Dalam hal berikut kata sunnah berarti sesuatu yang positif dan sesuatu yang negatif.
غليكمبسنتيوسنتيوسنةالخلفاءالراشدينالهديين
Artinya: “Berpegnglah kalian pada sunnahku dan sunnah khulafa Ar Rasidin yang diberi petunjuk setelahku.”
لتركبنسنةمنكانكبلكم
Artinya:
Kalian akan mengikuti sunnah orang orang sebelum kalian yang manis dan pahitnya.
Penggunaan kata “sunnah” dalam al Quran dalam bentuk jamak ataupun tunggal bentuk umum ataupun dinisbatkan biasanya menunjukkan hukum yang pasti.
سنةاللهفيالدينخلومنقبلوكانامراللهقدرامقدورا ( الاحزاب:34 )
Artinya: “sebagaiman sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang terdahulu sebelum (mu) , dan kamu tidak akan sekali-kali mendapat pada perubahan pada sunnah Allah.”
Kata sunnah dalam bentuk tunggal dan definitif (dengan alif dan lam) dalam definisi sahabat dan kalangan salaf adalah sunnah Nbai SAW yaitu jalan yang ditempuh nabi dalam menjalankan petunjuk yang di.bawanya dan agama yamg benar, dengan pengertian lain sunnah adalah metode kenabian (manhaj nabawi), secara teoristis maupun praktis, yang dilakukan Nabi SAW. Dalam memahmi agama Allah SWT serta aplikasinya dalam seluruh aspek kehidupan.
Itulah yang diingatkannnya beliau untuk tidak ditinggalkannya ketika berkata pada sahabat yang berlebihan dalam ibadah dan zuhud:
انماانااخشاكماللهواتقكملهولكنياقوموانامواصوموافترواتزوجالنساءفمنرغبعنسنتيفليسمني (رواهالبخاري)
Artinya: “Sesungguhnya aku adalah oarng yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepadaNya akan tetapi aku tetap tidur, bangun, berpuasa,berbukadan menikahi wanita barang siapa yang membenci sunnahku ia bukan ummatku.”
A. DEFINISI SUNNAH
1). Menurut ulama ushul fiqh
Sunnah menurut ulama ushul fiqh adalah sebagai sumber tasri’ setelah al quran, definisinnya adalah sebagai segala sesuatu yang berasala dari Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan perbauat maupun ketetapan.
2). Menurut ulama hadis
Sunnah sebagai hal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik perbuatan, perkataan persetujuan sifat ataupun prilaku hidup.
3). Ulama Fiqih
Para ahli fiqih menggunakannya sebagai lawan dari fardhu dan wajib atau sesuatu yang dianjurkan (al mandub/Al mustahhab) yaitu sesuatu yang diperintahkan oleh syara’ tanpa ada keharusan untuk melaksanakannya, yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
4). Ahli Ushul Fiqh
Salah satu dari dalil hukum dalam hal yang lain sunnah sebagai lawan dari bid’ah
B. SUNNAH MENURUT ULAMA HADIS SEBUAH TELAAH ULANG
Sunnah menurut mereka meliputi perkataan, perbuatan,taqrir, sifat, baik sifat fisik maupun sifat akhlak dan prilku Nabi.
1.Perkataan Nabi
Perkataan dalam terminologi bahasa arab dibagi khabar (berita atau informasi) dan imsya’ (perintah) seperti hadis riwayat Abu Hurairah
اناللهحينخلقالخلقكتببيدهعلينقسهانرحمتيتغلبغضبي (رواهالترمديوابنيماجه)
Artinya: “Sesungguhny tattkala penciptaan makhluk Allah mewjibkan kepada dirinyasesungguhnya rahmatku mengalahkan kemarahanku”
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majjah)
a.kefasihan
Perkataan nabi baik redaksinya panjang maupun pendek serupa dengan puncak sebuah gunung, artinya berada diatas kefasihan manusia banyak sastrawan yang mengakuinya antara lain Al Jahiz dalam al Bayan wa Tibyan hhal 14-15, Mustafa asshadiq Ar Rafi’i dalam bukunya Ijaz Al Qur’an hal 422-423.
b. Urgensi hadis Qauliyah
Alasan utama hadis qauliyah mendapat porsi paling besar dibanding lainya karena ada anggapan bahawa hadis qauliyah adalah referentasi/ gambaran utuh sunnah Nabi menjalaskan kefahaman Nabi , dalam hadis qauli ada yang disebut jawami’ Al Kalam yaitu salah satu bentuk keistimewaan Rasulullah dari Allah SWT, yaitu hadis nabi mamapu merangkum berbeagi makna yang dikehendaki tapi menggunakan kalimat yang sedikit saja.
Untuk memperjelas kita lihat contoh berikut:
خدواعنيمناسككم
Artinya:
“Ikutilah petunjuk ibadah haji dariku”
2.Perbuatan Rasulullah SAW
Wujud lain dari sunnah yaitu perbuatan rasullulah yang berupa segala tindak tanduk beliau baik khusus maupun umum, agama, dunia atau kehidupan sehari-hari ataupun interaksi beliau sebagai seorang suami keseluruhan aspek tersebut merupakan sumber inspirasi ataupun suri tauladan sebagai petunjuk terbaik.

3.Persetujuan Nabi SAW ( Taqrir)
Sunnah Nabi bisa berbentuk taqrir atau bila melihat suatu perbuatan kemudian Rasulullah diam tidak menginngkarinya.Sebab nabi yidak mengingkarinya sebab nabi tidak mungkin mendiamkna suatu kebatilan, jadi apasaja yang didiamkan nabi tidak berdosa untuk dikerjakan.
Contoh :
“Kalian jangan dulu shalat ashar sebelum sampai di bani Quraidah.”
Ketia ada sekelompok sahabat memahaminya berbeda yang satu memahami agar cepat-cepat sebagai bentuk pendidikan begi mereka yng berkhianat kepada rasulullah dan sebagian yang lain memahami zahir redaksinya. Ketika dilaporkan kepada nabi nabipun memebenarkan keduanya.
4.Sifat atau karakter Nabi SAW
Menurut ulama hadis sifat nabi merupakan salah satu bentuk sunnah baik akhlak ataupun fisik.
كانخاتمالنبوةفيطهريبضعةناشرة (رواهالترمدى)
Artinya:
“Ada cap stempel kenabian di punggung Nabi, berupa segummpal daging yang menonjol.”
5. Perjalanan hidup Nabi SAW
Selain semua diatas perjalanan hidup Nabi pun masuk didalamnya, Sebelum Nabi diangkat menjadi rasul sekalipun seperti sejarah kelahiran penyusuan, pembukuan , diangkat menjadi Rasul dan lainnya termasuk kedaka sunnah.
Salah asatu contohnya:
كانلﺭسواللهعليوسلممؤدنانبلاللوابنامكتمالاعمي (رواهابودود)
Artinya:
“Rasulullah SAW memiliki dua mu’azin: Bilal dan Ibni Umi Maktum Al-A’ma)
Hadis diatas tida termasuk perbuatan ataupun sifat nabi hal itu diketahui setelah diketahui penelusuran jauh tapi dianggap sebagai perjalanan, sirah atau biografi hidup Nabi, oleh karena itu perjalanan hidup beliau termasuk kedalam sunnahnya.
C. SUNNAH NABI SEMUA BENAR TIDAK ADA KEBATILAN.
Sudah menjadi kebenaran aksiomatik bahwa sunnah Nabi sedikitpun tidak menyangkut perkara yng batil yang dilarang Allah SWT.
Perbuatan, perkataan, ataupun ketetapan beliau telah dijamin kebenarannya oleh Allah SWT karena Nabi adalah suri tauladan seluruh umat.
لقدكانلكمفيرسواللهلاسوةحسنة
Artinya:
“Telah ada dalam diri rasulullah suri tauladan yang baik”
اكتبفوالديبيديهمايحرجمنهالاحق
Artinya:
“Tulislah apa yng kau dengar demi dzat yang jiwaku berada didalam genggamannya tidaklah keluar darinya (Muhammad) kecuali kebenaran”.
HR. Abu Dawud dan Ahmad
Para ulama menamai alQur’an sebagai wahyu ...................
Artinya:
”Ingatlah bahwa aku telah diberi alkitab dan yang sepertinnya bersamanya”
Hasil ijtihad beliau adalah sunnah juga walaupu hal itu masih diperdebatkansebagian ahli ushul apakah masuk hukum syara’(hukum) atau perkara dunia.
d. Urgensi dan Kehujjahan sunnah
dalam islam sunnah menempati posisi kedua sebagai sumber referensi atau pandangan hidup setelah Al Qur’an, yang berfungsi sebagai penjelas seluurh kandungan Al Qur’ansehingga sunnah wajib diikuti.
1). Dalil Al Qur’an
Artinya:
منيطعرسولفقداطاعالله (النسا:80)
“Barang siapa yang taat keoada roaulNya maka ia telah taat Allah SWT”
2) Dalil Sunnah
قدتركتفيكممااناعطصمتمبهفلنتضلواابدا: كتاياللهوسنةنبيه (رواهالحاكم)
Artinya:
“Telah aku tinggalkan kepada kalian yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat, yakni Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya”
HR Abdul Hakim
3). Ijma’ sahabat dan generasi sesudahnya
Para sahabat telah sepakat pada kehujjahan sunnah Nabi mereka menjadikannaya sebagai referensi catau cara pandang keagamaan, sumber hukum setelah Al Qur’an tradisi ini kemudian diwariskan dan dilestarikan oleh Khulafaurasyidin dan generasi sesudahnya baik berupa perkataan maupun aplikasi praktis.
Pada masa Khulafaurasyidin Abu Bakar Siddiq seorang nenek meminta bagian harta peniggalan (tirkah) cucunya, Abu Bakar berkata: Wahai nenek aku tidak mendapatkan bagianmu dalam Al Qur’an, aku juga tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutnya demikian”, kemudian Abu Bakar bertanya kepada orang-orang , Al Mughairah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW memeberi si nenek satu perenam bagian Abu Bakar berkata siapa saksimu kemudian ia mendatangkan Muhammad Bin Muslamah sebagai saksinya, abu bakar kemudian memberi bagian satu perenam kepada sinenek.

E. SUNNAH SUMBER FIQIH
Sudah menjadi kebenaran yang aksiomatik dan tidak dipertentangkan lagi bahwa grand thema diskursus fiqh diberbagai madzhab adalah mencari ketetapanatau pembenarannya didalam sunnha seandaiyna kita meniadakan sunnah dari pembahasan fiqih dan kita mencari tradisi dalam fiqih, maka sebenarnya tradisi dan khazanah fiqh tidak pernah ada.
F. SUNNAH SEBAGAI PERSPEKTIF MADZHAB RA’YU
Dalam tradisi dan khazanah fiqih imam Imam Abu Hanifah dikenal sebagai salah satu pentolan madzhab ra’yu, walaupun begitu,tidak benar dikatakan jika beliau dikatakan meninggalkan sunnah dalam penerapan hukum fiqih, para Imam madzhab ini menggunakan sunnah dalam menyelesaikan banyak masalah sebagaimana kita saksiakan dalam literatur mereka yang begitu banyak.
Sebagai conto kitab Al-Hidayah karya Al Marghinani dan syarahnya, Fath la-Qodir, yang disusun oleh seorang muhaqqiq Madzhab Hanafi La mujtahid Kamaludin bin al Hamam didalmnya kita akan mendapati wawasan yang luas dan kaya tentang sunnah dalam setiap pembahasan, ada sebagian penulis era sekarang beranggapan bahwa Abu Hanifah hanya memiliki koleksi sebanyak tujuh belas hadis saja.maksudnya madzhab ini sebagian besar berangkat dan bertitik tolak dari pemikiran dan ijtihad sematapendapat ini menurut mereka dikutip dari Ibnu Khaldun dalam mukhadimahnya.
Namun hal ini merupakan kesalahan besar Karena redksi dalam kitab (mukhadimah) tersebut hanya menggunakan tamrid, tidak secara eksplisit, sesbenarnya mereka mempunyai koleksi hadis yang begitu banyak namun karena adanya cacat (tha’un) illat dalam system perawian hadis. Apalagi mayoritas ulama jar’h ta’dil mendahulukan mendahulukan jarh ( penilaian negative terhadap perawi) daripda ta’idil ( penilaian positif terhadap perawi). Hal ini berpengaruh pada pada sebagian imam, sesuai dengan ijtihadnya, untuk tidak menerima hadis yang didalamnya dinilai mengandung cacat, dengan sendirinya koleksi hadisnya sedikit dalam hal ini karena imam abu hanifah memberikan persyaratan yang sangat ketat sehingga koleksi beliau sangat sedikit.Inilah maksud dari pendapat ibnu khaldun.
G. SUNNAH LANDASAN HUKUM FUKAHA’
Di sini kami dapat memastikan, pertama semua ahli fikih dari berbagai madzhab lintas geografis baik yang masih eksis atau telah ada pengikutnya berhukum dengan sunnah sebab mereka memahami dan meyakinkannya sebagai bagian dari agama Allah SWT. Imam Baihaki menginformasikan dari Ustman Bin Umar: seorang datang Kepada Malik dan menanyakan suatu masalah, Malik berkata “ Telah bersabda Rasulullah SAW. Anu...anu..”Lelaki itu bertanya lagi ,“Apa yang anda maksudkan ?” Malik lalu membacakan ayat:
فليحدرالدينيخالفونعنامرهتصيبهمفتنةاويصيبهمعداباليم (النور: 63)
Artinya:
“ Maka hendaklah orang –orang yang menyalahi eprintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”
(Q.S.An Nur [24]: 63)
H. ALASAN IMAM FIKIH TIDAK MENGAMALKAN SUNNAH TERTENTU
Berdasarkan asas yang disepakati bersama tidak pernah tergambarkan madzhab fikih atau iamam mujtahid secara sengaja meninggalkan hadis sahih, Maksudnya, hadis itu menurut penilaiannya bukan menurut penilaian orang lain serta jelas petunjuknya.
Ibnu Taimiyah berkata “Hendakalah diketahui tidak seorangpun dari imam dengan secara sengaja melawan sunnah Rasulullah sebesar atau sekecil apapun”
Ada tiga sebab mengapa ulama fikih meninggalkan hadis-hadis tertentu pertama keyakinan bahwa rasulullah tidak mengucapkannya, kedua keyakian bahwa masalah itu tidak ada hubungannnya dengan hadis nabi, ketiga keyakinan bahwa hukum tersebut mansukh.
Ketiga pokok diatas dibagi lagi menjadi beberapa sebab lainnya
Pertama, hadis tersebut belum sampai padanya, orang yang belum menerima suatu hadis tidak dibebankan untuk mengetahui hukum yang dikandungnya.
Kedua, mungkin hadis tersebut sudah sampai padanya tapi belum ada kepastian bahwa hadis tersebut sahih.
Ketiga, ia menilai dengan ijtihadnya lemahnya suatu hadis tapi penilainnya bertentangan dengan ulama lainya.
Keempat, ia menentukan syarat- syarat tertentu sohih yang ditolak imam lainnya.
Kelima, mungkin hadis telah sampai padanya dan ia menilai kesahihannya tapi ia lupa.
Keenam, karena tidak mengetahui isi kandungan hadis mungkin karena matannya gharib (asing).
Ketujuh, keyakinan bahwa dalalah (petunjuk) tidak dapat diterima.
Kedelapan, petunjuk hadis sudah dapat dipahami tapi muncul pemahaman baru yang menegasikan pemahaman awal.
Kesembilan, suatu hadis ditinggalkan karena dhaif atau dinasakh ataupun bertentangan dengan hadis lainnya.
Kesepuluh, suatu hadis dinilai oleh seorang imam mujtahid dhaif’, dinasakh atau takwil sedang laninya tidak menilai demikian.

I.SUNNAH SEBAGAI PEDOMAN SULUK
Seperti halnya fukaha’ yang mendasarkan pemahamannya pda sunnah sebagai sumber rujukan kedua , setiap ulama pun demikian tasawuf menjadikan sunnah sebagai sumber rujukan dan petunjuk jalan menuju Allah SWT.
J. SUFI GENERASI AWAL BERPEGANG TEGUH TERHADAP SUNNAH
Segian pemuka sufi tidak menyetujui seperti pernyataan yang mengindikasikan ketidak butuhan terhadap Al Qur’an dan sunnah.
Disini kami sertakan kutipan dari ibnu Qoyyum dalam madariq Ash Salihin tentang sufi besar yang moderat dan guru besar sufi Al Junaid Bin Muhammad Al Baghdady ia ( semoga Allah SWT merahmatinya) berkata janganlah mengikuti oarng yang tidak hafal Al Qur’an dan tidak menulis hadis karena ilmu ini (tasawuf) sanagat bergantung pada kita bullah dan sunnah Rosulullah iapun berkata:” Madzhab kami (tasawuf) diikat dengan fondasi alkitab dan as sunnah.
K. SUNNAH SKETSA RINCI KEHIDUPAN ISLAM
Sunnah baik perkataan, perbuatan ketetapan, ataupun sifat nabi menggambarkan seacara rinci metode terciptanyakehidupan islami baik individu, keluarga jama’ah hingga masyarakat.
Sunnah berusaha merinci ketetapan yang masih global dalam al quran menjelaskan yang masih samar dan mannifesetasi langsung kehendak Al Qur’an, Al qur’an di dimislakan sebagai peraturan (dustur) sedangkan sunnah sebagai qonun atau pun disebut UU yang menjelaskan peraturan tersebut. Sehingga dalam sunnah kita dapat perincian tentang iman, iabadah syar’i, akhlak dan lainya yang selalu kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
I.KADAR PERINCIAN SUNNAH TIDAK SAMA
kadar perincian sunnah terhedap berbagi aspek tidak sama perincian antara ibadah tidak sama dengan muamalah begitu pula urusan agam tidak sama dengan urusan kenegaraan, aspek kehidupan yang tetap ( tsubut) dan langgeng serta berhubungna dengan inti kehidupan, mendapatkan porsi yang lebih banyak dari lainnya.
Aspek yang memiliki karakter berubah ubah seperti politik administarsi dan lainnya mendapat porsi yang lebih sedikit sehingga manusia diberi kesempatan oleh Allah di beri kesempatan untuk memikirkannya sesuai dengan konteksnya, Allah tidak mereka berdosa melakukan hal diatas ini adalah ruang ampunan.

M. HUBUNGAN SUNNAH DENGAN AL QUR’AN
para peneliti menemukan tiga bagian hubungan sunnah denganal qur’an pertama menguatkan isi kandungan al quran tanpa memberikan perincian atau penjelasan seperti hadis berbuat baik kepada orangtua dan ancamannya hadis ancaman (targhib wa tarhib) petuah (mawa’izh) dan kisah-kisah masuk didalamnya kedua sebagai penjelas (mubayyin) Al Qur’an baik dengan cara merinci yang masih global mengkhususkan ketentuan yang masih umum atau memberiakn syarat kepada ketentuan yang masih mutlak, fungsi ketiga adalah menunjukkan suatu hukum yang tidak dijelaskan dalam Al Qur’an, tidak pula dinegasikan, dan tidak pula ditetapkan, seperti hadis:

Artinya: “Wanita Haid tidak Wajib mengkhodo’ sholat, tapi tida untuk puasa.”
(Muttafaqun Alaih)
Fungsi ketiga menurut ibnu qayyum sama sekali tidak bertenatangan dengan isi Al Qur’an dari sisi manapun. Isinya merupakan ketetapan hukum dari Nabi yang wajib diikuti dan tidak dibenarkan membangkangnya. Hal ini bukan berarti mendahulukan sunnah daripada Al Qur’an tapi menaati perintah Allha untuk menaati perintah Nya dan rasu Nya.
Yang paling menarik dari hal ini, semua ulama sepakat bahwa sunnah mempunyai hak untuk menetapkan kehalalan, keharaman dan kewajiban, serta untuk mengguburkan suatu hukum, baik itu disebut sebagai pembuat hukum baru secara mendiri sebagaimana menurut sebagian ulama atau tidak disebut demikian seperti dilakukan sebagian ulama.
BAB 3
3.      PENGERTIAN IJTIHAD
“Secara bahasa ijtihad berasal dari kata ijtahada-yajtahidu yang berarti bersungguh-sungguh dalam menggunakan tenaga, baik fisik maupun pikiran. “(Ali sodiqin, Fiqih, dan ushul fiqih, yogyakarta : beranda publishing,2012 : 99)
“Menurut kamus dalam ilmu mawaris ijtiha adalah, menggunakan seluruh kemampuan berfikir untuk menetapkan suatu hukum syari’at”. (Fartchur rahman, ilmu waris,bandung : almavarif,1987: 610)
“Ibrahim Husein mengidentifikasikan makna ijtihad dengan istinbath. Istinbath barasal dari kata nabath (air yang mula-mula memancar  dari sumber yang digali). Oleh karena itu menurut bahasa arti istinbath sebagai muradif dari ijtihad yaitu “mengeluarkan sesuatu dari persembunyian” (Ibrahim Husein, Ijtihad Dalam Sorotan, Bandung: Mizan, 1991: 25)
“Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh ijtihad adalah : pencurahan segenap kesanggupan (secara maksimal) seorang ahli fiqh untuk mendapatkan pengertian tingkat dhanni terhadap hukum syari’at.” (Al-Jurjani Syarief Ali Muhammad, Al-Ta’rifat, Jeddah:Al-Haramain : 10)
“Ijtihad adalah suatu usaha darurat di dalam sejarah perkembangan syariat, karena ijtihad jalan untuk mengistimbathkan hukum dari dalil, baik yang naqli maupun yang aqli.”( Al-Jurjani Syarief Ali Muhammad, Al-Ta’rifat, Jeddah:Al-Haramain:10)
Orang yang mempunyai kelengkapan syarat ijtihad ditugaskan mengistinbathkan hukum atas dasar fardlu kifayah. Ada ulama yang berkata : kita perlu membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi lalu kita bahas hukumnya, agar ketika terjadi hal-hal itu hukum telah ada. Inilah jalan yang ditempuh oleh fuqaha akhir ra’yi dan golongan Hanafiyah. Dan haram berijtihad pada masalah-masalah yang telah terjadi ijma’.( Al-Jurjani Syarief Ali Muhammad, Al-Ta’rifat, Jeddah:Al-Haramain : 10)
Menurut istilah, ijtihad berarti pengarahan segenap kemampuan untuk menemukan hukum syarak melalui dalil-dalil yang yang rinci dengan metode tertentu. Definisi ijtihad menurut para ulama adalah sebagai brikut :
Menurut imam ghozali ijtihad adalah pengerahan kemampuan oleh seorang fiqih(mujtahid) dalam rangka menghasilkan hukum syarak.
Menurut abdul wahab kholaf ijtihad adalah pengerahan kemampuan untuk menghasilkan hukum syara’ dri dalil-dalil yang rinci yang bersumber dari dalil-dalil syara’.
Menurut Muhammad Khudhari Bek ijtihad adalah mencurahkan kemampuan untuk mengistimbatkan hukum syara’ dari apa yang dipandang pembuat syara’ sebagai dalil, yaitu kitabullah dan sunnah nabi-Nya.( Al-Jurjani Syarief Ali Muhammad, Al-Ta’rifat, Jeddah:Al-Haramain : 10)
Dengan demikian dapat dapat dinamakan ijtihad apabila memenuhi 3 unsur yaitu : usaha yang bersungguh-sungguh, menemukan atau mengistimbatkan hukum islam, dan menggunakan dalil-dalil yang rinci. Pertama, tidak dinamakan ijtihad apa bila usaha yang dilakukan tdak bersunguh-sungguh. Persyaratan ini sekaligus membatasi pelaksanaan ijtihad, yaitu hanya kepada mereka yang memiliki kemampuan dan ketrampilan yang berhubungan dengan masalah yang di ijtihadi. Kedua, tujuan ijtihad adalah untuk menemukan atau merumuskan ketetapan hukum islam, yang belum ada kepastian hukumnya dalam al-Qur’an maupun hadits. Ketiga, menggunakan dalil-dalil yang rinci yaitu dalil yang bersumber dari nash al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, penguasa terhadap metode istimbat hukum menjdi sangat pentina dalam pelasanaan ijtihad. Karena metode inilah yang akan menghasilkan ketetapan hum yang dihasilkan dengan nash al-quran dan hadits yang menjadi dasar hukumnya. Ketika unsur diatas adalah satu kesatuan, jadi jika salah stunya ada yang tidak terpenuhi maka usaha tersebut tidak disebut ijtihad.
2.      Fungsi dan kedudukan ijtihad
Fungsi utama ijtihad adalah mengistimbatkan hukum (mencari, menggali, dan menemukan) hukum syara’. Ijtihad merupakan alat ilmiah dan pandangan yang diperlukan untuk menghampiri berbagai segi kehidupan baru dari segi ajaran islam. Melalui ijtihad, hukum islam akan selalu up to date dan fungsional dalamkehidupan pribadi dan sosial. Dalam kajian fiqih dan ushul fiqih ijtihad menjadi sumber hukum yang ketiga setelah al-quran dan hadits.meskipun menjadi sumber hukum yang ketiga, tetapi kedudukan ijtihad sangat penting karena nash tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri tanpa bantuan akal manusia. Dasar hukum berlakunya ijtihad adalah : ( Ali sodiqin, op cit:102)
Al-qur’an, yaitu surat an-nisaa’ yang Artinya :
Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat[347],
[347]  ayat Ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi.hal Ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu’mah kepada nabi s.a.w. dan mereka meminta agar nabi membela Thu’mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu’mah, nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu’mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi. ( Ali sodiqin : 102)
Tentang kebenaran hasil ijtihad, ulama terbelah dalam 2 pendapat, yaitu kelompok musawwibat dan kelompok mukhatti’at. Kelompok musawwibat berpndapat bahwa : mujtahid berfungsi sebagai penemu dan pembuat hukum (munsy al-hukmi). Kedudukannya sama dengan Allah swt. Sehngga al-qur’an dan hadits dapat sebagai sumber hukum.Kelompok mkhatti’at berpendapat lain, bahwa fungsi mujtahid adalah pengungkap hukum (kasy al-hukmi), bukan pembuat hukum.Hasil ijtihadnya relatif, bisa benar bisa juga salah.Ijtihad berkedudukan sebagai metode bukan sumber hukum.
3.      Macam-macam ijtihad
a)      Dengan segala kemampuan untuk sampai kepada hukum yang dikehendaki dari nash yang dhanni dalalahnya. Dalam hal ini kita berijtihad dalam batas memahami nash dan mentarjihkan sebagian atas yang lain, seperti mengetahui sanad dan jalannya sampai kepada kita.
b)      Dengan segala kesungguhan berupaya memperoleh suatu hukum yang tidak ada nash qoth’i, nash dhnny dan tidak ada pula ijma’. Dalam hal ini kita memperoleh hukum itu denagn berpegang kepada tanda-tanda dan wasilah-wasilah yang telah diletakkan syara’ seperti qiyas dan istihsan.Inilah yang disebut dengan ijtihad birro’yi.
c)      Dengan segala kesungguhan berupaya memperoleh hukum-hukum syara’ dengan jalan menerapkan kaidah-kaidah kulliah. Ijtihad ini berlaku dalam bidang yang mungkin diambildari kaidah dan nash-nash kulliah, tidak adanya suatu nash tertentu, tidak ada pula ijma’ dan tidak pula ditetapkan dengan qiyas atau istihsan.
(Teungku  muhammad h,a,s, (semarang; pustaka rizki putra,1967: 200)
Hal ini sebenarnya untuk mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemafsadatan, sesuai dengan kaidah-kaidah syara’.
Dari segi pelaku atau siapa yang terlibat langsung dalam pelaksanaannya, ijtihad dibagi menjadi dua, yaitu ijtihad fardi dan ijtihad jama’i.Ijtihad fardi yaitu ijtihad yang dilakukan oleh satu orang saja. Ulama’ yag melakukan ijtihad fardi adalah mereka yang sudah menguasai ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu lain yang terkait dengan masalah yang diijtihadi. Ijtihad ijma’i yaitu ijtihad yang dilakukan beberapa orang secara bersama-sama atau kelompok untuk meyelesaikan suatu persoalan.
Dari segi pelaksanaannya, ijtihad dibagi menjadi dua yaitu ijtihad intiqo’i dan ijtihad insya’i.Ijtihad intiqo’i yaitu ijtihad untuk memilih salah satu pendapat terkuat diantara beberapa pendapt yang ada.Contoh ijtihad model ini adalah dalam hal penetapan hukum amenikahi wanita hamil.Sedangkan ijtihad insya’i yaitu mengambil konklusi hukum baru terhadap suatu permasalahan yang belum ada ketetapan humnya.Contohnya dalam penetapan bayi tabung, yang merupakan persoalan baru yang belum pernah ada ketetapan hukum sebelumnya.
Pada masa sekarang ini , bentuk-bentuk ijtihad yang dapat dilaksanakan, dapat berupa penyusunan undang-undang, fatwa, maupun melakukan penelitian ilmiah, ketiga hal tersebut termasuk dalam kategori ijtihad karena, dalam pelaksanaannya penuh dengan kesungguhan, dilakukan oleh orang-orang yang ahli, dan ketetapan atau pendapat yang dihasilkan sesuai dengan ajaran atau ketentuan hukum syara’.
4.      Ruang lingkup ijtihad
Secara garisbesar ruang lingkup ijtihad daat dibagi menjadi 2 bagian :
ü  Peristiwa yang ketetapan hukumnya masih dzanny. Tugas utama para mujtahid dalam masalah ini adalah menafsirkan kandungan nash kemudian menetapkan hukum-hukum yang termuat didalamnya. Contohnya adalah bersentuhan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrimnya baik disengaja ataupun tidak apakah itu membatalkan wudhu atau tidak, kewajiban suami istri, dan lain-lain.
ü  Peristiwa yang beum ada nash nya sama sekali. Tugas utama para mujtahid dalam masalah ini adalah merumuskan hukum baru ats peristiwa tersebut dengan menggunakan kekuatan ra’y. Contoh masalah ini adalah : hukum bayi tabung,transplantasi organ tubuh,keluarga berencana, dan lain-lain.( Teungku  muhammad h,a,s, (semarang; pustaka rizki putra,1967: 200)

Dengan demikian, ijtihad tidak dapat dilakukan terhadap persoalan hukum syara’ yamg sudah qot’i dolalah, atau memiliki kepastian hukum dari nash. Contoh dalam hal ini adalah tentang kewajibansalat lima waktu. Salat lima waktu wajib hukumnya secara qot’i, berdasarkan perintah didalam al-quran dan hadits, serta ijma ulama. Oleh karena itu, tidak diperblehkan lagi menfsirkan atau berijtihad dalam masalah kewajiban salat lima waktu.
5.      Syarat-syarat ijihad
Syarat umum :
Baliqh
Berakal sehat
Memahami  masalah
Beriman
Syarat-syarat khusus:
ü  Mengetahui  ayat al-quran yang berhubungan dengan masalah yang dianalisis.
ü  Mengetahui sunah nabi yang berhubunagn dengan yang dianalisis.
ü  Mengetahui maksud dan rahasia hukum islam.
ü  Mengetahui kaidah kulliah yaitu kaidah2 fiqih.
ü  Mengetahui kaidah b.arab
ü  Mengetahui ilmu mantiq
Syarat-syarat tambahan:
Ò  Mengetahui bahwa tidak ada dalil qot’i yang berkaitan dengan masalah yang akan di tetapkan hukumnya.
Ò  Mengetahui masalah yang diperselisihkan oleh ulama dan yang akan mereka sepakati.
Mengetahui bahwa hasil ijtihad itu tidak bersifat mutlak.( Hunain, dkk. Kumpulan materi dan soal latihan ujian nasional taahun pelajaran 2010/2012.Dalam bentuk makalah. Man wonosari : 56-57).
BAB 4
4.      PENGERTIAN HADIS
Secara bahasa, kata al-hadis berasal dari kata hadatsa – yahdutsu – hadtsan – haditsan dengan pengertian yang bermacam.Al-hadis dapat berarti al-jadid min al-asyya’ (sesuatu yang baru) sebagai lawan dari kata al-qadim (sesuatu yang sudah lama, kuno, klasik).Kata al-hadits dapat pula berarti al-qarib, yakni menunjukkan pada waktu yang dekat atau singkat. Al-hadis juga mempunyai makna al-khabar yang berarti ma yutahaddats bih wa yunqal (sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan, diberitakan dan dialihkan dari seseorang kepada orang lain.
Dari ketiga arti kata al-hadis tersebut, nampaknya yang banyak digunakan adalah pengertian ketiga, yakni dalam arti al-khabar.Menurut Manna’ al-Qattan, hadis dalam konteks ini dimaknai sebagai segala perkataan yang dinukil serta disampaikan oleh manusia, baik kata-kata tersebut diperoleh melalui pendengaran atau wahyu, baik dalam keadaan terjaga, maupun tertidur.Lebih lanjut, dalam kategori ini al-Quran masuk sebagai bagian dari hadis. Begitu pula apa yang terjadi pada manusia di waktu tidurnya juga dinamakan hadis.[1]
Umumnya, para ulama mendefinisikan al-hadis dengan al-sunnah. Sunnah secara etimologi berarti cara atau jalan hidup yang biasa dipraktekkan, baik ataupun buruk. Secara terminologi, sunnah adalah segala sesuatu yang dinisbatkan (disandarkan) kepada Nabi saw., baik perkataan (qauli), perbuatan (fi’li), sikap/ketetapan (taqriri) maupun sifat fisik dan psikis Rasulullah saw, baik beliau sebelum menjadi nabi maupun sesudahnya.
Definisi hadis atau sunnah dapat dibedakan menurut disiplin ilmunya. Menurut sebagian ulama hadis, pengertian sunnah sama dengan pengertian hadis, yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw., baik ucapan, perbuatan, sikap/ketetapan, sifatnya sebagai manusia biasa, dan akhlaknya apakah itu sebelum atau sesudah diangkatnya menjadi rasul.
2.      Kedudukan Hadits terhadap Al-Qur’an
Kedudukan hadis terhadap al-Quran ditunjukkan oleh fungsinya sebagai:
a. Bayan al-Ta’kid (Taqrir), yaitu penjelasan untuk memperkuat pernyataan al-Qur’an. Seperti hadis berpuasa dan berbuka karena melihat bulan yang memperkuat ayat 185 surat al-Baqarah.
b. Bayan Tafsir, yaitu penjelasan terhadap ayat-ayat yang bersifat umum. Seperti hadis tentang shalat sebagaimana shalat Nabi saw. yang menjelaskan perintah shalat di dalam al-Qur’an (al-Baqarah: 43, Al-Nisa: 103, dan seterusnya).
c. Bayan al-Taudhih, yaitu penjelasan yang bersifat mengungkapkan maksud sebenarnya. Seperti hadis yang menyatakan bahwa Allah mewajibkan zakat agar harta yang disimpan menjadi baik dan berkah sebagai penjelasan terhadap ayat 34 surat al-Taubah.[2]
Harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara hadis dan al-Quran dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya. Dari segi redaksi, diyakini bahwa.
wahyu al-Quran disusun langsung oleh Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril yang kemudian Nabi Muhammad saw. langsung menyampaikannya kepada umat, dan demikian seterusnya dari generasi ke generasi. Redaksi al-Quran dapat dipastikan tidak mengalami perubahan, karena sejak diterimanya oleh Nabi, ia ditulis dan dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian disampaikan secara mutawatir oleh sejumlah orang yang mustahil mereka sepakat berbohong. Atas dasar ini wahyu-wahyu al-Quran menjadi qath’i al-wurud.
Berbeda dengan hadis yang pada umumnya disampaikan oleh orang per orang dan itupun seringkali dengan redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. Disamping itu, diakui pula oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa sahabat sudah ada yang
menulis teks-teks hadis, namun pada umumnya penyampaian atau penerimaan kebanyakan hadis hanya berdasarkan hafalan para sahabat dan tabi’in. ini menjadikan kedudukan hadis dari segi otentisitasnya adalah zhanni al-wurud.[3]
Walaupun demikian, itu tidak berarti terdapat keraguan terhadap keabsahan hadis karena sekian banyak faktor—baik pada diri Nabi, para sahabat dan periwayat (akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya)—yang saling mendukung sehingga terpeliharanya hadis-hadis Nabi saw. Hadis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari al-Quran sebagai pegangan hidup setiap muslim sebab ia mempunyai kedudukan yang sama dalam mengamalkan ajaran Islam. Tanpa hadis, ajaran al-Quran tidak dapat dilaksanakan.
Selain itu, ruang lingkup hadis yang sangat luas, meliputi akidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, cara hidup, sejarah, peristiwa-peristiwa, dan lain sebagainya, menjadikannya berada dalam posisi setingkat di bawah al-Quran sehingga ia dapat dijadikan hujjah dan pegangan umat Islam dalam setiap kehidupannya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan-pernyataan Allah di dalam al-Quran:
a. Setiap mukmin wajib patuh kepada Allah dan rasul-Nya (QS. Ali Imran: 32, An-Nisa: 59, Al-Maidah: 92, dst.).
b. Ketaatan pada rasul merupakan bukti ketaatan dan cinta kepada Allah (QS. Ali Imran: 31, An-Nisa: 80).
c. Orang yang menyalahi sunnah/hadis akan mendapat azab Allah (QS. Al-Mujadalah: 5)
d. Berhukum dengan sunnah/hadis adalah tanda orang beriman (QS. An-Nisa: 65).
3.      Fungsi dan Contoh Hadits dalam menafsirkan Al-qur’an
Hadits menguatkan hukum yang ditetapkan al-qur’an disini hadits berfungsi memperkuat dan memperkokoh hukum yang dinyatakan oleh alquran.Misalnya, al-quran menetapkan hukum puasa, dalam firman-nya :
“ hai orang–orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimanadiwajibkan atas orang–orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” . (q.s al  baqarah/2:183(
Dan hadits menguatkan kewajiban puasa tersebut:
Islam didirikan atas lima perkara : “persaksian bahwa tidak ada tuhan selain allah , dan muhammad adalah rasulullah, mendirikan shalat , membayar zakat , puasa pada bulan ramadhan dan naik haji ke baitullah.” (h.r bukhari dan muslim)
Hadits memberikan rincian terhadap pernyataan al qur`an yang masih bersifat global.misalnya al-qur`an menyatakan perintah shalat : dalam surat al-baqoroh ayat 110 yang artinya :
“Dan dirikanlah oleh kamu shalat dan bayarkanlah zakat”.
Shalat dalam ayat diatas masih bersifat umum, lalu hadits merincinya, misalnya shalat yang wajib dan sunat. Sabda rasulullah saw: dari thalhah bin ubaidillah : bahwasannya telah datang seorang arab badui kepada rasulullah saw. Dan berkata : “wahai rasulullah beritahukan kepadaku salat apa yang difardukan untukku?” Rasul berkata : “salat lima waktu, yang lainnya adalah sunnat” (hr.bukhari dan muslim)[4]
Al-qur`an tidak menjelaskan operasional shalat secara rinci, baik bacaan maupun gerakannya. Hal ini dijelaskan secara terperinci oleh hadits, misalnya sabda rasulullah saw:
“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (hr. Bukhari)
Hadits membatasi kemutlakan ayat al qur`an .misalnya al qur`an mensyariatkanwasiat:
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan tanda–tanda maut dan dia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk ibu dan bapak karibkerabatnya secara makruf. Ini adalah kewajiban atas orang–orang yang bertakwa,”(q.s al baqarah/2:180
Hadits memberikan batas maksimal pemberian harta melalui wasiat yaitu tidak melampaui sepertiga dari harta yang ditinggalkan (harta warisan). Hal ini disampaikan rasul dalam hadist yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim dari sa`ad bin abiwaqash yang bertanya kepada rasulullah tentang jumlah pemberian harta melalui wasiat.rasulullah melarang memberikan seluruhnya, atau setengah. Beliau menyetujui memberikan sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkan.
Hadits memberikan pengecualian terhadap pernyataan al qur`an yang bersifat umum. Misalnya al-qur`an mengharamkan memakan bangkai dan darah:
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging yang disembelih atas nama selain allah , yang dicekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang dimakan binatang buas kecuali yang sempat kamu menyembelihnya , dan yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan pula bagimu mengundi nasib dengananak panah, karena itu sebagai kefasikan. (q.s al maidah /5:3)[5]
Hadits memberikan pengecualian dengan membolehkan memakan jenis bangkai tertentu (bangkai ikan dan belalang ) dan darah tertentu (hati dan limpa) sebagaimana sabda rasulullah saw:
Dari ibnu umar ra.rasulullah saw bersabda :
 ”Dihalalkan kepada kita dua bangkai dan dua darah .Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang dan dua darah adalah hati dan limpa.”(hr.ahmad, syafii`,ibn majah ,baihaqi dan daruqutni).
Hadits menetapkan hukum baru yang tidak ditetapkan oleh al-qur`an. Al-qur`an bersifat global, banyak hal yang hukumnya tidak ditetapkan secara pasti .dalam hal ini, hadits berperan menetapkan hukum yang belum ditetapkan oleh al-qur`an,misalnya hadits dibawah ini:
“Rasulullah melarang semua binatang yang bertaring dan semua burung yang bercakar” (hr. Muslim dari ibn abbas).
Abdul halim mahmud, mantan syaikh al-azhar, dalam bukunya al-sunnah fimakanatiha wa fi tarikhiha menulis bahwa sunnah atau hadits mempunyai fungsi yang berhubungan dengan al-quran dan fungsi sehubungan dengan pembinaan hukum syara’.dengan menunjuk kepada pendapat al-syafi’i dalam al-risalah,‘abdul halimmenegaskan bahwa, dalam kaitannya dengan al-quran, ada dua fungsi al-sunnah yangtidak diperselisihkan, yaitu apa yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayanta’kid dan bayan tafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggaris bawahi kembali apa yang terdapat di dalam al-quran, sedangkan yang kedua memperjelas,merinci, bahkan membatasi, pengertian lahir dari ayat-ayat al-quran.
Dalam Al-qur’an terdapat ayat yang secara tidak langsung telah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan hari esok secara lebih baik yang terkandung dalam surat Al-hasr ayat 18 yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendakla setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah sesunggunya Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.
Dalam kandungan ayat ini Rasulullah SAW menguraikannya dengan sabada beliau yang berbunyi “Sikap yang baik penuh kasih saying dan berlaku hemat adalah sebagian dari 24 kenabian” (H.r Tarmizi).
Nabi Muhammad SAW mengajarkan sikap hemat ini sebagai kiat untuk mengantisipasi kekurangan yang dialami oleh seseorang pada sewaktu-waktu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bersikap hemat tidak berate harus kikir dan bakhil ada perbedaan besar antara hemat dan kikir,hemat berate membeli untuk keperluan tertentu secukupnya dan tidak berlebihan ia tidak akan membeli atau mengeluarkan uang kepada hal-hal yang tidak perlu.Adapun kikir adalah sikap yang terlalu menahan dari belanja sehingga untuk keperluan sendiri yang pokok pun sedapat mungkin ia hindari apalagi memberikan kepada orang lain dengan kata lain ia berusaha agar uang yang dimilikinya tidak dikeluarkannya,tetapi berupaya agar orang lain memberikan uang kepadanya. Dalam halini rasulullah SAW melarang keras bagi kaum muslim berbuat kikir.[6]
Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqh
Pengetahuan Fiqh itu lahir melalui proses pembahasan yang digariskan dalam ilmu ushul Fiqh. Menurut aslinya kata "Ushul Fiqh" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab "Ushulul Fiqh" yang berarti asal-usul Fiqh. Maksudnya, pengetahuan Fiqh itu lahir melalui proses pembahasan yang digariskan dalam ilmu ushul Fiqh.
Pengetahuan Fiqh adalah formulasi dari nash syari'at yang berbentuk Al-Qur'an, Sunnah Nabi dengan cara-cara yang disusun dalam pengetahuan Ushul Fiqh. Meskipun caar-cara itu disusun lama sesudah berlalunya masa diturunkan Al-Qur'an dan diucapkannya sunnah oleh Nabi, namun materi, cara dan dasar-dasarnya sudah mereka (para Ulama Mujtahid) gunakan sebelumnya dalam mengistinbathkan dan menentukan hukum. Dasar-dasar dan cara-cara menentukan hukum itulah yang disusun dan diolah kemudian menjadi pengetahuan Ushul Fiqh.
Menurut Istitah yang digunakan oleh para ahli Ushul Fiqh ini, Ushul Fiqh itu ialah, suatu ilmu yang membicarakan berbagai ketentuan dan kaidah yang dapat digunakan dalam menggali dan merumuskan hukum syari'at Islam dari sumbernya. Dalam pemakaiannya, kadang-kadang ilmu ini digunakan untuk menetapkan dalil bagi sesuatu hukum; kadang-kadang untuk menetapkan hukum dengan mempergunakan dalil Ayat-ayat Al-Our'an dan Sunnah Rasul yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, dirumuskan berbentuk "hukum Fiqh" (ilmu Fiqh) supaya dapat diamalkan dengan mudah.Demikian pula peristiwa yang terjadi atau sesuatu yang ditemukan dalam kehidupan dapat ditentukan hukum atau statusnya dengan mempergunakan dalil.
Yang menjadi obyek utama dalam pembahasan Ushul Fiqh ialah Adillah Syar'iyah (dalil-dalil syar'i) yang merupakan sumber hukum dalam ajaran Islam.Selain dari membicarakan pengertian dan kedudukannya dalam hukum Adillah Syar'iyah itu dilengkapi dengan berbagai ketentuan dalam merumuskan hukum dengan mempergunakan masing-masing dalil itu.
Topik-topik dan ruang lingkup yang dibicarakan dalam pembahasan ilmu Ushul Fiqh ini meliputi:
a.         Bentuk-bentuk dan macam-macam hukum, seperti hukum taklifi (wajib, sunnat, mubah, makruh, haram) dan hukum wadl'i (sabab, syarat, mani', 'illat, shah, batal, azimah dan rukhshah).
b.         Masalah perbuatan seseorang yang akan dikenal hukum (mahkum fihi) seperti apakah perbuatan itu sengaja atau tidak, dalam kemampuannya atau tidak, menyangkut hubungan dengan manusia atau Tuhan, apa dengan kemauan sendiri atau dipaksa, dan sebagainya.
c.         Pelaku suatu perbuatan yang akan dikenai hukum (mahkum 'alaihi) apakah pelaku itu mukallaf atau tidak, apa sudah cukup syarat taklif padanya atau tidak, apakah orang itu ahliyah atau bukan, dan sebagainya.
d.         Keadaan atau sesuatu yang menghalangi berlakunya hukum ini meliputi keadaan yang disebabkan oleh usaha manusia, keadaan yang sudah terjadi tanpa usaha manusia yang pertama disebut awarid muktasabah, yang kedua disebut awarid samawiyah.
e.         Masalah istinbath dan istidlal meliputi makna zhahir nash, takwil dalalah lafazh, mantuq dan mafhum yang beraneka ragam, 'am dan khas, muthlaq dan muqayyad, nasikh dan mansukh, dan sebagainya.
f.          Masalah ra'yu, ijtihad, ittiba' dan taqlid; meliputi kedudukan rakyu dan batas-batas penggunannya, fungsi dan kedudukan ijtihad, syarat-syarat mujtahid, bahaya taqlid dan sebagainya.
g.         Masalah adillah syar'iyah, yang meliputi pembahasan Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma', qiyas, istihsan, istishlah, istishhab, mazhabus shahabi, al-'urf, syar'u man qablana, bara'atul ashliyah, sadduz zari'ah, maqashidus syari'ah/ususus syari'ah.
h.         Masa'ah rakyu dan qiyas; meliputi. ashal, far'u, illat, masalikul illat, al-washful munasib, as-sabru wat taqsim, tanqihul manath, ad-dauran, as-syabhu, ilghaul fariq; dan selanjutnya dibicarakan masalah ta'arudl wat tarjih dengan berbagai bentuk dan penyelesaiannya.
Sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam mempelajari Ushui Fiqh ialah bahwa peranan ilmu pembantu sangat menentukan proses pembahasan.
Dalam pembicaraan dan pembahasan materi Ushul Fiqh sangat diperlukan ilmu-ilmu pembantu yang langsung berperan, seperti ilmu tata bahasa Arab dan qawa'idul lugahnya, ilmu mantiq, ilmu tafsir, ilmu hadits, tarikh tasyri'il islami dan ilmu tauhid. Tanpa dibantu oleh ilmu-ilmu tersebut, pembahasan Ushul Fiqh tidak akan menemui sasarannya. Istinbath dan istidlal akan menyimpan dari kaidahnya.
Ushul Fiqh itu ialah suatu ilmu yang sangat berguna dalam pengembangan pelaksanaan syari'at (ajaran Islam).Dengan mempelajari Ushul Fiqh orang mengetahui bagaimana Hukum Fiqh itu diformulasikan dari sumbernya. Dengan itu orang juga dapat memahami apa formulasi itu masih dapat dipertahankan dalam mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan sekarang; atau apakah ada kemungkinan untuk direformulasikan. Dengan demikian, orang juga dapat merumuskan hukum atau penilaian terhadap kenyataan yang ditemuinya sehari-hari dengan ajaran Islam yang bersifat universal itu.
Dengan Usul Fiqh :
-           Ilmu Agama Islam akan hidup dan berkembang mengikuti perkembangan peradaban umat manusia.
-           Statis dan jumud dalam ilmu pengetahuan agama dapat dihindarkan.
-           Orang dapat menghidangkan ilmu pengetahuan agama sebagai konsumsi umum dalam dunia pengetahuan yang selalu maju dan berkembang mengikuti kebutuhan hidup manusia sepanjang zaman.
-           Sekurang-kurangnya, orang dapat memahami mengapa para Mujtahid zaman dulu merumuskan Hukum Fiqh seperti yang kita lihat sekarang. Pedoman dan norma apa saja yang mereka gunakan dalam merumuskan hukum itu. Kalau mereka menemukan sesuatu peristiwa atau benda yang memerlukan penilaian atau hukum Agama Islam, apa yang mereka lakukan untuk menetapkannya; prosedur mana yang mereka tempuh dalam menetapkan hukumnya.
Dengan demikian orang akan terhindar dari taqlid buta; kalau tidak dapal menjadi Mujtahid, mereka dapat menjadi Muttabi' yang baik, (Muttabi' ialah orang yang mengikuti pendapat orang dengan mengetahui asal-usul pendapat itu). Dengan demikian, berarti bahwa Ilmu Ushul Fiqh merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam pengembangan dan pengamalan ajaran Islam di dunia yang sibuk dengan perubahan menuju modernisasi dan kemajuan dalam segala bidang.
Melihat demikian luasnya ruang lingkup materi Ilmu Ushul Fiqh, tentu saja tidak semua perguruan/lembaga dapat mempelajarinya secara keseluruhan.
BAB 5
5. HUKUM TAKLIFI, PERINTAH IBADAH DAN SUMBER-SUMBERNYA
A. Hukum Taklifi
Hukum Islam secara garis besar dibagi dua, yaitu:
a. Hukum Taklifi, yaitu tuntutan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk mengerjakan atau meninggalkan perbuatan.
b. Hukum Wad’i, yaitu ketetapan Allah yang mengandung pengertian, terjadinya sesuatu hukum karena ada sebab, syarat, atau penghalang.
Contoh, karena belum balig, maka seseorang tidak wajib berpuasa ramadan. “Belum balig” merupakan penghalang kewajiban puasa ramadan.

1. Pengertian Hukum Taklifi
Macam-macam hukum taklifi meliputi;
a. Al-Ijab, merupakan tuntutan pasti untuk dilaksanakan serta tidak boleh (dilarang) meninggalkannya.
b. An-Nadb, merupakan tuntutan untuk melaksanakan suatu perbuatan, tetapi tuntutan tersebut tidak secara pasti.
c. Al-Ibahah, merupakan penetapan dari Allah swt yang mengandung pilihan antara berbuat atau tidak.
d. Karahah, merupakan tuntutan untuk meninggalkan sesuatu perbuatan, tetapi apabila tidak dilaksanakan tidak dikenai hukuman.
e. At-Tahrim, merupakan perintah tuntuk tidak mengerjakan perbuatan dengan tuntutan yang pasti.
2. Kedudukan dan Fungsi Hukum Taklifi
a. Kedudukan Hukum Taklifi
Kedudukan hukum taklifi (dalam hukum Islam) merupakan ketetapan-ketetapan dari Allah itu sendiri.
b. Fungsi Hukum Taklifi
Fungsi hukum taklifi adalah sebagai rambu-rambu bagi umat Islam mengenai berbagai perbuatan yang boleh dan dilarang, perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan tetapi jika dilakukan tidak berdosa, dan lain-lain.

B. Perintah Ibadah
1. Pengertian Ibadah
Ibadah adalah segala perbuatan yang disukai serta diridai oleh Allah swt.
2. Hikmah Ibadah
a. Pendekatan diri kepada Allah
b. Menumbuhkan jiwa sosial
c. Menunjukkan syiar
d. Menunjukkan kesatuan
e. Menunjukkan persatuan derajat
C. Sumber-sumber Hukum Taklifi
Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti wadah ditemukannya dan ditimbanya norma hukum.
a. Al Qur’an
Al Qur’an berisi wahyu-wahyu dari Allah SWT yang diturunkan secara berangsur-angsur (mutawattir) kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Al Qur’an diawali dengan surat Al Fatihah, diakhiri dengan surat An Nas. Membaca Al Qur’an merupakan ibadah.
Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim berkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu menngikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangnannya
Al Qur’an memuat berbagai pedoman dasar bagi kehidupan umat manusia;
a. Tuntunan yang berkaitan dengan keimanan/akidah, yaitu ketetapan yantg berkaitan dengan iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar
b. Tuntunan yang berkaitan dengan akhlak, yaitu ajaran agar orang muslim memilki budi pekerti yang baik serta etika kehidupan.
c. Tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa, zakat dan haji.
d. Tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam masyarakat
Isi kandungan Al Qur’an
1. Segi Kuantitas
Al Quran terdiri dari 30 Juz, 114 surat, 6.236 ayat, 323.015 huruf dan 77.439 kosa kata
2. Segi Kualitas
Ditinjau dari segi hukum, isi pokok al-Qur’an terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:
a. Hukum yang berkaitan dengan ibadah: hukum yang mengatur hubungan rohaniyah dengan Allah SWT dan hal – hal lain yang berkaitan dengan keimanan. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam
b. Hukum yang berhubungan dengan amaliyah yang mengatur hubungan dengan Allah, dengan sesama dan alam sekitar. Hukum ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syariat. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fiqih
c. Hukum yang berkaitan dengan akhlak. Yakni tuntutan agar setiap muslim memiliki sifat – sifat mulia sekaligus menjauhi perilaku – perilaku tercela.
Bila ditinjau dari Hukum Syara terbagi menjadi dua kelompok:
a. Hukum yang berkaitan dengan amal ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, nadzar, sumpah dan sebagainya yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhannya.
b. Hukum yang berkaitan dengan amal kemasyarakatan (muamalah) seperti perjanjian perjanjian, hukuman (pidana), perekonomian, pendidikan, perkawinan dan lain sebagainya.

Hukum yang berkaitan dengan muamalah meliputi:
1. Hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam berkeluarga, yaitu perkawinan dan warisan
2. Hukum yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu yang berhubungan dengan jual beli (perdagangan), gadai-menggadai, perkongsian dan lain-lain. Maksud utamanya agar hak setiap orang dapat terpelihara dengan tertib
3. Hukum yang berkaitan dengan gugat menggugat, yaitu yang berhubungan dengan keputusan, persaksian dan sumpah
4. Hukum yang berkaitan dengan jinayat, yaitu yang berhubungan dengan penetapan hukum atas pelanggaran pembunuhan dan kriminalitas
5. Hukum yang berkaitan dengan hubungan antar agama, yaitu hubungan antar kekuasan Islam dengan non-Islam sehingga tercpai kedamaian dan kesejahteraan.
6. Hukum yang berkaitan dengan batasan pemilikan harta benda, seperti zakat, infaq dan sedekah.
Selain ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan hukum, ada juga yang berkaitan dengan masalah dakwah, nasehat, tamsil, kisah sejarah dan lain-lainnya.Ayat yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut jumlahnya banyak sekali.
b. Hadits
Hadits merupakan segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (taqrir).Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an.Allah SWT telah mewajibkan untuk menaati hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan yang disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam haditsnya.
Hadits menurut sifatnya mempunyai klasifikasi sebagai berikut:
1. Hadits Shohih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat, dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai kesahihan suatu hadits.
2. Hadits Makbul, adalah hadits-hadits yang mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima sebagai Hujjah. Yang termasuk Hadits Makbul adalah Hadits Shohih dan Hadits Hasan.
3. Hadits Hasan, adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya (hafalannya), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat dan kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang makbul biasanya dibuat hujjah untuk sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau tidak terlalu penting.
4. Hadits Dhoif, adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih syarat-syarat hadits sahih atau hadits hasan. Hadits dhoif banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits sahih atau hasan yang tidak dipenuhi.
Adapun syarat-syarat suatu hadits dikatakan hadits yang sahih, yaitu:
1. Rawinya bersifat adil
2. Sempurna ingatan
3. Sanadnya tidak terputus
4. Hadits itu tidak berilat, dan
5. Hadits itu tidak janggal
c. Ijtihad
Ijtihad ialah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah yang tidak ada ketetapannya, baik dalam Al Qur’an maupun Hadits, dengan menggunkan akal pikiran yang sehat dan jernih, serta berpedoman kepada cara-cara menetapkan hukum-hukumyang telah ditentukan.Hasil ijtihad dapat dijadikan sumber hukum yang ketiga.
Untuk melakukan ijtihad (mujtahid) harus memenuhi beberapa syarat berikut ini:
1. mengetahui isi Al Qur’an dan Hadits, terutama yang bersangkutan dengan hukum
2. memahami bahasa arab dengan segala kelengkapannya untuk menafsirkan Al Qur’an dan hadits
3. mengetahui soal-soal ijma
4. menguasai ilmu ushul fiqih dan kaidah-kaidah fiqih yang luas.
Dalam berijtihad seseorang dapat menmpuhnya dengan cara ijma’ dan qiyas. Ijma’ adalah kesepakatan dari seluruh imam mujtahid dan orang-orang muslim pada suatu masa dari beberapa masa setelah wafat Rasulullah SAW. Berpegang kepada hasil ijma’ diperbolehkan, bahkan menjadi keharusan.
Qiyas (analogi) adalah menghubungkan suatu kejadian yang tidak ada hukumnya dengan kejadian lain yang sudah ada hukumnya karena antara keduanya terdapat persamaan illat atau sebab-sebabnya. Contohnya, mengharamkan minuman keras, seperti bir dan wiski.Haramnya minuman keras ini diqiyaskan dengan khamar yang disebut dalam Al Qur’an karena antara keduanya terdapat persamaan illat (alasan), yaitu sama-sama memabukkan.Jadi, walaupun bir tidak ada ketetapan hukumnya dalam Al Qur’an atau hadits tetap diharamkan karena mengandung persamaan dengan khamar yang ada hukumnya dalam Al Qur’an.
Sebelum mengambil keputusan dengan menggunakan qiyas maka ada baiknya mengetahui Rukun Qiyas, yaitu:
1. Dasar (dalil)
2. Masalah yang akan diqiyaskan
3. Hukum yang terdapat pada dalil
4. Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan
Bentuk Ijtihad yang lain
• Istihsan/Istislah, yaitu menetapkan hukum suatu perbuatan yang tidak dijelaskan secara konkret dalam Al Qur’an dan hadits yang didasarkan atas kepentingan umum atau kemaslahatan umum atau untuk kepentingan keadilan
• Istishab, yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan telah ditetapkan suatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan dari hukum tersebut
• Istidlal, yaitu menetapkan suatu hukum perbuatan yang tidak disebutkan secara konkret dalam Al Qur’an dan hadits dengan didasarkan karena telah menjadi adat istiadat atau kebiasaan masyarakat setempat. Termasuk dalam hal ini ialah hukum-hukum agama yang diwahyukan sebelum Islam. Adat istiadat dan hukum agama sebelum Islam bisa diakui atau dibenarkan oleh Islam asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Al Qur’an dan hadits
• Maslahah mursalah, ialah maslahah yang sesuai dengan maksud syara’ yang tidak diperoeh dari pengajaran dalil secara langsung dan jelas dari maslahah itu.Contohnya seperti mengharuskan seorang tukang mengganti atau membayar kerugian pada pemilik barang, karena kerusakan diluar kesepakatan yang telah ditetapkan.
• Al ‘Urf, ialah urusan yang disepakati oleh segolongan manusia dalam perkembangan hidupnya
• Zara’i, ialah pekerjaan-pekerjaan yang menjadi jalan untuk mencapai mashlahah atau untuk menghilangkan mudarat.
D. Pembagian Hukum dalam Islam
Hukum dalam Islam ada lima yaitu:
a. Wajib, yaitu perintah yang harus dikerjakan. Jika perintah tersebut dipatuhi (dikerjakan), maka yang mengerjakannya akan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan maka ia akan berdosa
b. Sunah, yaitu anjuran. Jika dikerjakan dapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak berdosa
c. Haram, yaitu larangan keras. Kalau dikerjakan berdosa jika tidak dikerjakan atau ditinggalkan mendapat pahala
d. Makruh, yaitu larangan yang tidak keras. Kalau dilanggar tidak dihukum (tidak berdosa), dan jika ditinggalkan diberi pahala
e. Mubah, yaitu sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan. Kalau dikerjakan tidak berdosa, begitu juga kalau ditinggalkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen