Rabu, 12 April 2017

makalah tentang Fiqih Muamalah

BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara ciptaan-NYA dan juga sebagai pemimpin dimuka bumi ini. Dari pengertian ini biasanya disalah artikan oleh manusia itu sendiri, dengan cara bertindak semaunya sendiri/seenaknya sendiri tanpa melihat apakah ada yang dirugikan disekeliling mereka. Artinya hanya peduli dengan kepentingannya sendiri tanpa peduli pada kepentingan orang lain. Seperti contoh bermasyarakat khususnya dengan tetangga, jika kita menyalakan radio selayaknya sesuai aturan jangan sampai mengganggu tetangga kita, yang mana dari itu akan diketahui bahwa kita punya rasa tenggang rasa atau tidak.
Jadi secara tidak lain kita sebagai warga Negara yang baik harus taat pada aturan tertulis maupun yang tidak tertulis seperti aturan dalam masyarakat. Khususnya bagi umat muslim selain harus taat pada aturan-aturan tertulis maupun yang tidak tertulis, kita juga mempunyai aturan agama yang memang wajib kita laksanakan jika ingin benar-benar menjadi seorang muslim yang haqiqi yaitu fiqh.           
Didalamnya mencakup seluruh sisi kehidupan individu dan masyarakat, baik perekonomian, sosial kemasyarakatan, politik bernegara, serta lainnya. Para ulama mujtahid dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan yang setelah mereka tidak henti-hentinya mempelajari semua yang dihadapi kehidupan manusia dari fenomena dan permasalahan tersebut di atas dasar ushul syariat dan kaidah-kaidahnya.                   
Berangkat dari sini, sudah menjadi kewajiban setiap muslim dalam kehidupannya untuk mengenal dan mengamalkan hukum-hukum syariat terkait dengan amalan tersebut. Seperti yang akan ditulis pada materi ini yang bertujuan sebagai acuan/sandaran kita dalam hubungan kepentingan antar sesama manusia.
B.     Rumusan masalah
Dari latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang muncul adalah
a.       Pengertian fiqih muamalah ?
b.      Ruang lingkup fiqih muamalah ?
c.       Prinsip-prinsip muamalah ?
d.      Jenis-jenis fiqih muamalah ?
e.       Pembagian fiqih muamalah ?
f.       Norma dan etika ketika bermuamalah ?
g.       Sumber fiqih muamalah ?       
C.     Tujuan penulisan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah
a.       Untuk mengetahui pengertian fiqih muamalah ?
b.      Untuk mengetahui ruang lingkup fiqih muamalah ?
c.       Untuk mengetahui prinsip-prinsip muamalah ?
d.      Untuk  mengetahui jenis-jenis fiqih muamalah ?
e.       Untuk mengetahui pembagian fiqih muamalah ?
f.       Untuk mengetahui norma dan etika ketika bermuamalah ?
g.     Untuk mengetahui sumber fiqih muamalah ?











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian fiqih muamalah

Fiqih muamalah adalah pengetahuan tentang kegiatan atau  transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat. Mengenai perilaku manusia dalam kehidupan yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci. Ruang lingkup fiqih muamalat adalah seluruh kegiatan muamalah yang dilakukan manusia yang berdasarkan hukum-hukum yang berupa peraturan-peraturan yang berisi tentang perintah dan larangan, seperti wajib, sunah, haram, makruh dan mubah. Hukum fiqih terdiri hukum-hukum yang menyangkut urusan ibadah yang kaitanya dengan hubungan vertical antara manusia dengan Allah dan  manusia dengan manusia lainya.
B.     Ruang lingkup fiqih muamalah
Mencakup seluruh kegiatan dan aspek kehidupan manusia, seperti sosial,ekonomi,hukum politik dan lainya. Aspek ekonomi sering disebut dalam bahasa arab dengan istilah ‘iqtishady’ yang artinya adalah suatu cara bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuat pilihan diantara berbagai pemakaian atas kebutuhan yang ada, sehingga kebutuhan manusia yang ada tak terbatas dapat dipenuhi kebutuhan yang tak terbatas.
C.    Sumber-sumber fiqih muamalat
Berasal dari dua sumber utama yaitu dalil naqly dan dalil aqly. Dalil naqly yaitu berupa akal (ijtihad). Penerapan sumber fiqih islam kedalam tiga sumber, yaitu Al-qur’an, Al-hadist, ijtihad.
1.      Al-qur’an.
 Al-qur’an adalah kitab Allah S.W.T yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa arab. Sebagai sumber hukum utama yang utama dan merupakan  patokan utama yang digunakan umat islam dalam menemukan dan menarik hukum suatu masalah.
2.      Al-hadist
Hadist yakni berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan. Hadist merupakan sumber fiqih yang kedua setelah al-Qur’an yang berlaku mengikat bagi umat islam.
3.      Ijma’ dan Qiyas
Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid terhadap suatu hukum syari’ah dalam suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW. Suatu hukum syari’ah agar bias dikatakan sebagai ijma’ maka,  penetapan kesepakatan tersebut harus dilakukan oleh semua mujtahid. Walaupun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ijma’ maka, penetapan kesepakatan harus dilakukan oleh semua mujtahid. Sedangkan qiyas adalah kiat untuk menetapkan hukum pada kasus baru yang tidak terdapat didalam Al-qur’an maupun Hadist dengan cara menyamakan pada kasus baru yang ada didalam al-Qur’an dan Hadist.
D.    Prinsip-prinsip muamalah                                                                           
Sebagai sistem kehidupan, islam memberikan warna dalam setiap dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali dalam dunia ekonom. Sistem islam ini berusaha mendialektikkan nilai-nilai ekonomi dengan nilai aqidah ataupun etika yang artinya kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia dibangun dengan dialektika nilai materialism dan spiritualisme. Kegiatan ekonomi yang dilakukan tidak hanya berbasis nilai meteri,  akan tetapi terdapat sandaran transcendental di dalamnya, sehingga akan bernilai ibadah. Selain itu konsep dasar islam dalam kegiatan muamalah (ekonomi) juga sangat konsen terhadap nilai-nilai humainisme. Diantara kaidah dasar (asas)fiqih muamalah adalah sebagai berikut
1)      Hukum asal dalam muamalah adalah mubah
2)      Konsentrasi fiqih muamalah untuk mewujudkan kemaslahatan
3)      Menetapkan harga yang kompetetif
4)      Meninggalkan intervensi yang dilarang
5)      Menghindari eksploitasi
6)      Memberikan toleransi
7)      Tabligh,siddhiq,amanah,fathonah sesuai sifat Rasulullah
8)      Bermanfaat,adil dan muawanah
                              
E.     Jenis jenis fiqih muamalah
a.      Jual Beli
Jual beli yaitu menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara yang tertentu(‘aqad). Disini ada beberapa rukun jual beli
1.      Adanya penjual dan pembeli
2.      Uang dan benda yang dibeli
3.      Lafaz (kalimat ijab dan qabul)
Ada beberapa jual beli yang sah tetapi terlarang yaitu cara jual beli yang tidak diizinkan oleh agama, disini aqkan kita uraikan beberapa tata cara sebagai cermin perbandingan kepda yang lain-lainya. Yang menjadi pokok sebab timbulnya larangan
        i.            Membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar sedang dia tidak ingin kepada barang itu, tetapi semata-mata  supaya orang lain tidak dapat membeli barang itu.
      ii.            Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar.
    iii.            Membeli barang untuk ditahan agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal.
    iv.            Menjual barang yang berguna untuk menjadi alat maksiat kepada pembelinya.
b.      Khiyar                     

Khiyar adalah boleh memilih antara dua, meneruskan ‘aqad jual beli, atau diurungkan (ditarik kembali tidak jadi jual beli). Adanya khiyar oleh syara’, agar kedua orang yang jual beli dapat memikirkan kemaslahatan masing-masing lebih jauh dan supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Ada tiga macam khiyar yaitu:
a)      Khiyar majlis yaitu pembeli dan penjual boleh memilih antara dua perkara, selama keduanya masih tetap di tempat jual beli dan boleh dilakukan pada semua macam jual beli.
b)      Khiyar syarat yaitu khiyar itu dijadikan syarat sewaktu ‘aqad oleh keduanya atau salah seorang.
c)      Khiyar ‘aibi (cacat) yaitu pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila terdapat pada barang yang dibeli itu suatu kecacatan yang mengurangkan harganya dan pada saat ‘aqad cacatnya itu sudah ada sedang pembeli tidak mengetahui.
c.       Riba                               
Secara bahasa riba berarti tambahan (ziyadah). Dan secara istilah berarti tambahan pada harta yang disyaratkan dalam transaksi dari dua pelaku akad dalam tukar menukar antara harta dengan harta.
Sebagian ulama ada yang menyandarkan definisi’ riba’ pada hadits yang diriwayatkan al-Harits bin Usamah
Dari Ali bin Abi Thalib, yaitu bahwa Rasulullah SAW bersabda:” Setiap hutang yang menimbulkan manfaat adalah riba”.
Pendapat ini tidak tepat karena,  hadits itu sendiri sanadnya lemah, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Jumhur ulama tidak menjadikan hadits ini sebagai definisi riba’, karena tidak menyeluruh dan lengkap. disamping itu ada manfaat yang bukan riba’ yaitu jika pemberian tambahan atas hutang tersebut tidak disyaratkan.
Secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua besar, yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah. Sedangkan kelompok kedua, riba jual-beli, terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasi’ah.
Macam-macam riba
1)      Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).
2)      Riba Jahiliyyah
Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.
3)      Riba Fadhl
Riba fadhl adalah riba yang terjadi dalam masalah barter atau tukar menukar benda. Namun bukan dua jenis benda yang berbeda, melainkan satu jenis barang namun dengan kadar atau takaran yang berbeda. Dan jenis barang yang dipertukarkan itu termasuk hanya tertentu saja, tidak semua jenis barang. Barang jenis tertentu itu kemudian sering disebut dengan "barang ribawi"
Rahn (Gadai)
Secara bahasa, rahn atau gadai berasal dari kata ats-tsubutu yang berarti tetap dan ad-dawamu yang berarti terus menerus. Sehingga air yang diam tidak mengalir dikatakan sebagai maun rahin. Pengertian secara bahasa tentang rahn ini juga terdapat dalam firman Allah SWT :
كل نفس بما كسبت رهينة
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.(QS. Al-Muddatstsr : 38)
Adapun pengertian gadai atau ar-Rahn dalam ilmu fiqih adalah :Menyimpan sementara harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diberikan oleh berpiutang (yang meminjamkan).Berarti, barang yang dititipkan pada si piutang dapat diambil kembali dalam jangka waktu tertentu.
‘Ariyah (pinjam-meminjam)
‘Ariyah yaitu memberikan manfaat sesuatu yang halal kepada yang lain untuk diambil manfaatnya dengan tidak merusakkan zatnya, agar dapat dikembalikan zat barang tersebut. Asal hukum meminjamkan sesuatu barang sunah, seperti tolong-menolong yang lain. Ada beberapa rukun meminjam yakni sebagai berikut,
a)      Yang meminjamkan, syaratnya :
                         a.            Ahli (berhak) berbuat kebaikan sekehendaknya, anak kecil dan orang yang dipaksa tidak sah meminjamkan.
                        b.            Manfaat barang yang dipinjam dimiliki oleh yang meminjamkan, walau dengan jalan wakaf atau menyewa sekalipun, karena meminjam hanya bersangkutan dengan manfaat, bukan dengan zat.
b)      Yang meminjam hendaklah dia seorang yang ahli(berhak) menerima kebaikan.
c)      Barang yang dipinjam tentu ada manfaatnya dan sewaktu diambil manfaatnya zatnya tetap (tidak rusak).
Jika barang yang dipinjam tersebut hilang atau rusak dengan sebab pemakaian yang diizinkan, yang meminjam tidak mengganti karena pinjam-meminjam itu percaya mempercayai, tetapi jika dengan sebab lain maka wajib untuk mengganti.
Luqathah (barang temuan)
Luqathah (barang temuan)  adalah barang-barang yang didapat (ditemukan) dari tempat yang tidak diketahui pemiliknya.
Ada beberapa hukum mengambil barang temuan :
a)      Sunat, bagi orang yang percaya kepada dirinya. Sanggup mengerjakan segala yang bersangkutan dengan pemeliharaan kepada barang tersebut.
b)      Wajib, apabila berat sangkaanya. Bahwa barang itu akan hilang tersia-sia kalau tidak diambilnya.
c)      Makruh, bagi orang yang tidak percaya kepada dirinya. Boleh jadi dia akan khianat terhadap barang itu dikemudian hari.
Apabila barang yang ditemukan itu barang yang besar atau berharga, hendaklah diberitahukan dalam masa satu tahun, tetapi apabila barang yang ditemukan kecil (tidak begitu berharga) cukup diberitahukan dalam masa kira-kira yang kehilangan sudah tidak lagi mengharapkanya.
Pembagian fiqih muamalah
Pembagian fiqih muamalah yang dikemukakan ulama fiqih sangat bervariasi bergantung pada sudut pandang yang mengkonsepsikan dalam pengertian luas atau dalam pengertian sempit. Dalam pengertian luas dibagi menjadi lima bagian, yaitu sebagai berikut :
1.      Hukum kebendaan ( Mua’wadhoh Maliyah)
2.      Hukum perkawinan (Munakahat)
3.      Hukum acara (Muhasanat)
4.      Pinjaman (Amanah dan ‘Ariyah)
5.      Harta peninggalan (Tirkah)
Sedangkan dalam kitab Al Mua’malah Al madiyyah wal Adabiyyah dibagi menjadi dua bagian yaitu sebagai berikut :
a)      Al Muamalah Al Maddiyah
Adalah muamalah yang mengkaji segi objeknya, yaitu benda. Sebagian ulama berpendapat bahwa al muamalah al maddiyah bersifat kebendaan, yakni benda yang halal, haram dan syubhat untuk dimiliki, diperjual belikan atau diusahakan. Benda yang menimbulkan kemudharatan dan mendatangkan kemashlahatan bagi manusia dan lainya.
b)      Al Muamalah Al Adabiyyah
Adalah muamalah yang ditinjau dari cara tukar-menukar benda, yang sumbernya dari panca indra manusia. Sedangkan unsur-unsur penegaknya adalah hak dan kewajiban, seperti jujur,hasud,iri, dendam dan lain sebagainya.
            Menurut Syafe’i dan Suhendi menyebutkan lingkup fiqih muamalah adabiyah adalah ijab dan kabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, penimbunan, dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta.
Sedangkan lingkup cakupan al muamalah al madiyyah, yaitu berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
a.       Jual beli (al bai’ at tijaroh)      
b.      Gadai (rahn)
c.       Jaminan dan Tanggungan (kafalah dan dhaman)
d.      Pemindahan Hutang (hiwalah)
e.       Jatuh Bangkit (taflis)
f.       Batas berindak (al hajru)
g.      Perseroan atau Perkongsian (asy syirkah)
h.      Perseroan harta atau tenaga (al mudhorobah)
i.        Sewa-menyewa tanah (al musaqoh al mukhobaroh)
j.        Upah (Ujroh al amah)
k.      Gugatan (Asy Syuf’ah)
l.        Sayembara (Jua’lah)
m.    Pembagian kekayaan bersama (al qismah)
n.      Pemberian (Hibah)
o.      Pembebasan (al ibra’)

p.      Damai (ash shulhu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen