Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juli 2020

JASA PEMBUATAN SKRIPSI

KONSULTASI DAN PENYUSUSAN SKRIPSI - TESIS JAKARTA
1). Deal, transfer 50%
2). Kirimkan aturan-aturan skripsi atau tesis sesuai kampus masing². Biasanya ada panduan tertulis berupa buku. Isinya tentang teknis penyusunan, sistematika, batasan tahun buku referensi. dll
3). Judul dulu atau langsung proposal
4). Jika judul, saya kirim  Judul dan penjelasannya dalam 4 hari. Saya kasih 3 kemungkinan judul. Silakan pilih yang pas dan sesuai.
5). Jika langsung proposal, saya kirimkan seminggu.
6). Setelah menghadap dosen dan revisi, kirim balik ke saya beserta penjelasannya.
7). Dalam jangka 3-4 hari saya kirim kembali hasil revisinya
😎. Demikian seterusnya  sampai selesai semua bab acc dosen
9). Jika sudah selesai semua, baru  pelunasan 100%
☎️ 085750.988500
EMAIL : rokiminajha@gmail.com

Lokasi Jakarta
Jika diperlukan dan dalam jumlah banyak, saya bisa datang ke kota tsb untuk konsultasi langsung.

Jumat, 12 Januari 2018

PENDIDIKAN ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan sangat diperlukan dalam kehidupan manusia, dimana pendidikan menjadi suatu kebutuhan manusia dalam meninjau masa depannya, apalagi sebagai oranng yang memeluk agama islam, paling tidak harus mengetahui mengenai aturan kehidupan yang akan dijalaninya. Karena sebagai umat muslim ada aturan-aturan yang tidak lepas dari kehidupan kita sekalian. Dalam melaksanakan ibadah memerlukan ilmu pengetahuan tentang ibadah, ada perkara wajib dan sunnah dalam melaksanakan ibadah baik itu ibadah maqdah maupun ibadah ghairu maqdah. Nah, hal tersebutlah menjadi alasan pentingnya pendidikan untuk kehidupan kita.
Dalam hal ini lukman member pengajaran kepada anaknya tentang kebenaran dan meninggalkan perbuatan kemusyrikan. Karena kemusyrikan adalah kezaliman yang besar. Maka dari itu kita sebagai orang tua, baik bagi orang tua di rumah, maupun orang tua di sekolah harus betul-betul mengajar anak atau peserta didik dengan baik dan penuh kelembutan sebagaimana lukman dalam mendidik anaknya yang telah dikisahkan di dalam Al-qur’an.
Dalam kehidupan kita banyak sekali dijumpai hal-hal yang bertentengan dengan hukum Al-qur’an dan hadis maka dari itu disinilah fungsi pendidikan untuk memilah man yang hak dan mana yang bathil. Sejak kecil anak sudah mendapat pendidikan dari kedua orang tua melalui keteladanan dan kebiasaan hidup sehari-hari dalam keluarga. Baik dan tidaknya keteladanan yang ditampilakan akan mempengaruhi jiwa dan tingkah laku anak. Keteladanan dan tingkahlaku kedua orang tua, tidak terlepas dari pengamatan anak. Meniru suatu hal yang orang tua lakukan adalah sesuatu yang sering anaklakukan dalam tahapan perkembangannya. Maka dari itu tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak sangatlah besar untuk penanaman ahlak yang baik dan luhur.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENDIDIKAN  ANAK  DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN SURAH LUKMAN AYAT 13-19
Dalam mendidik seorang anak, sudah pastilah orang tua harus mengetahui bagaimana cara menanamkan nilai-nilai pendidikan yang baik terhadap seorang anak. Karna orang tualah yang menjadi lingkungan yang pertama di tempuh oleh seorang anak dalam mendapatkan pendidikan. Nilai-nilai pendidikan itu, dapat diambil oleh seorang anak melalui proses pengajaran (nasehat-nasehat) dan keteladanan dalam artian apa yang dicontohkan oleh kedua orang tua, sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak. Sebagai mana yang telah dipelajari dalam psikologi pendidikan, dalam proses perkembangan dan pertumbuhan anak akan cenderung meniru kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu keteladanan yang baik yang seharusnya diperlihatkan kepada seorang anak, karna keteladanan adalah bagian dari proses pendidikan anak.
Di bawah ini, adalah konsep yang diterapkan oleh Lukman dalam mendidik anaknya:
1.      Q.S Lukman[31] Ayat 13
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã  
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".


Kata يَعِظُ (ya’izuhu) yaitu pengajaran yang mengandung nasihat kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang memaknai sebagai ucapan yang mengandung peringatan.[1] Kata bunayya adalah panggilan untuk anak laki-laki. Dimana panggilan tersebut mengandung kasih sayang. Lukman memulai nasehatnya kepada putranya dengan menekankan perlunya menghindari perbuatan syirik, karena perbuatan syirik adalah kedzaliman yang amat besar. Kita telah megetahui bahwa zalim adalah menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Suatu kezaliman yang besar jika menjadikan mahluk sebagai tuhan.
Nlai pendidikan yang terkandung dalam surah ini, yaitu bagaimana seharusnya menjadi seorang pendidik dalam berikan pengajaran kepada anak. Kita harus memulai dengan kelembutan. Ini adalah salah satu metode yang digunakan oleh Lukman sebagai mana dikisahkan dalam ayat diatas. Disamping itu, kita tidak boleh luput dalam mengulanginya untuk member nasehat.[2] Dalam mengajar harus banyak menasehati anak tentang hal-hal kebaikan terutama menyangkut ibadah kepada Allah SWT.
Setelah melihat bagaimana Lukman dalam mendidik anak, maka dilanjutkan dengan ayat berikutnya yang membahas atau mengajar kita bagaimana dalam bergail dan berbuat baik kepada kedua orang tua:
2.      Q.S Lukman[31] Ayat 14
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ  
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180].[3] bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Kata (ووصينا) wawasayna. Yaitu berpesan dengan sangat kukuh kepada manusia menyangkut kedua orang tua mereka, agar selalu berbuat baik kepada keduanya.[4] Kata (وهنا) wahnan yaitu kelemahan yang dirasakan oleh seorang ibu untuk memikul beban kandungan yang kian memberat sesuai dengan usia kandungan. Maka untuk itulah kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, dan bersyukur kepada Allah yang menciptakan kita melalui perantara keduanya dan bersyukur pula kepada kedua orang tua yang senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita sebagai seorang anak.
Nilai pendidikan yang harus kita ambil yaitu bagaimana cara untuk mempergauli kedua orang tua baik mereka sudah lanjut usia yang dalam pemeliharaan kita.
3.      Q. S. Lukman[31] Ayat 15
bÎ)ur š#yyg»y_ #n?tã br& šÍô±è@ Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ  
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Setelah ayat lalu menekankan tentang pentingnya berbuat baik kepada orang tua, maka dalam ayat diatas dinyatakan pengecualian untuk mentaati perintah kedua orangtua. Kata ( جاهداك) terambil dari kata (جهد) juhd yakni kemampuan atau sungguh-sungguh. Kata ini digunakan dalam ayat karena adanya upaya sungguh-sungguh. Dalam hal ini, sebagaimana makna kata اكجهد  adanya unsur paksaan dari orang tua untuk mentaati kemauanya yang melencengkan aqidah maka tidak harus diikuti apalagi hanya sekedar ajakan.[5]
Asbab nuzul ayat ini berkenaan Sa’ad bin Malik. Sa’ad bin Malik mengatakan, “aku sangat mencintai ibuku. Saat aku masuk islam ibuku tidak setuju dan berkata, ‘anakku, kau pilih salah satu, kamu tinggalkan Islam atau aku tidak akan makan sampai aku mati. Aku bertekad untuk tetap memeluk Islam. Namun ibuku malaksanakan ancamannya selama tiga hari tiga malam. Aku bersedih dan berkata, ‘ibu, jika ibu memiliki seribu jiwa (nyawa) dan satu persatu meninggal, aku akan tetap dalam Islam. Karena itu terserah ibu mau makan atau tidak, ahirnya ibuku pun luluh dan mau makan kembali.” (H.R. at-Tabrani).
Nilai-nilai pendidikan yang bias kita ambil jika dikaitkan dengan Al-qur’an surah lukman ayat 15:
a.       Peran orangtua bukanlah segalanya, melainkan terbatas dengan peraturan dan norma-norma ilahi.
b.      Dalam dunia pendidikan, pendidik tidak mendominasi secara mutlak, tidak semua harus diterima oleh anak didik melainkan anak didik perlu memilah yang benar berdasarkan nilai-nilai Islamiyah. Yaitu merujuk pada Al-qur’an dan As-sunnah.
c.       Dalam persoalan keduniaan, kita harus mematuhi kedua orang tua dan berbakti atau memberikan haknya, namun kalau persoalan aqidah tidak seharusnya kita mengikuti.[6]
4.      Q.S. Lukman[31] ayat 16
¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ  
"Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181][7] lagi Maha mengetahui.
Ayat diatas merupakan lanjutan nasihat Lukman kepada anaknya. Bahwa sekecil apapun itu, akan ada balasan dari perbuatan tersebut. Sebagaimana firman Allah pada ayat sebelumnya: “maka akan Ku-beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Ayat diatas pun dipertegas di dalam Q.S Al-anbiya’[21]:47 yang berbunyi:
“Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti kami mendatangkannya(pahala). Dan cukuplah kami membuat perhitungan,”
Perumpamaan biji sawi, dinyatakan dalam surah ini, karena biji sawi sangatlah kecil. Dalam tafsir Al-Muntakhab yang melukiskan biji tersebut. Di dalam tafsir tersebut dibahas bahwa 1 kg biji ( خردل (atau sawi terdiri atas 913.000 butir. Dengan demikian berat satu biji sawi sama dengan 1/1000 gram.
            Kata ( لطيف ) diambil dari akar kata لطف lathafa yang berarti lembut, halus. Artinya Allah maha halus yaitu walau sekecil apapun Allah mengetahuinya. Nilai pendidikan yang bisa kita ambil yaitu pengarahan kepada manusia bahwa tidak ada sesuatu yang dikerjakan melainkan ada balasan sekecil  apapun itu. Dan kita sebagai seorang pendidik, kita terus meluruskan walaupun menyangkut hal-hal kecil.
5.      Q.S Lukman[31] ayat 17
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ  
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
            Diatas adalah lanjutan nasihat dari Lukman kepada anaknya, terkait perintah sholat, dan menyuruh anaknya memerintahkan kepada setiap orang untuk melakukan hal-hal yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan kemungkaran dan bersabarlah. Karena hal yang ketiga tersebut merupakan hal-hal yang diutamakan.
            Dalam menjalankan wasiat Lukman tersebut tidaklah mudah melainkan ada banyak rintangan yang dihadapi ketika menyampaikan hal-hal yang baik.  Ini sama halnya yang dirasakan Rasulullah saat berdakwah, betapa banyak rintangan yang dialami sampai-sampai beliau rela dilempari kotoran dan batu untuk menegakkan kebenaran.
      Nilai pendidikan yang bisa diambil dari ayat ini adalah:
1.      Kewajiban mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain.
2.      Sebagai seorang pendidik, perlunya kesabaran dan penuh kasih sayang tanpa membedakan peserta didik.
6. Q.S Lukman[31] Ayat 18
Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù ÇÊÑÈ  
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Nasihat Lukman kali ini adalah akhlak dan sopan santun dalam berinteraksi dengan sesama manusia. hal yang disebutkan diatas sering kali terjadi dalam kehidupan sehari-ari kita. Kadang kala orang yang pernah kenal baik dengan kita, saat mendapati posisi yang tinggi seakan malu dan memalingkan muka saat bertemu karena posisi dan status sosial sudah beda lagi dengan kita.
Kata (تُصَعر) tusha’ir terambil dari kata (الصَعر) ash-sha’ar yaitu penyakit yang menimpa unta, dam menjadikan lehernya keseleo. Sehingga ini memaksakan dia dan berupaya keras agar berpaling sehingga tekanan tidak tertuju pada syaraf lehernya yang mengakibatkan rasa sakit. Dari kata inilah menggambarkan upaya keras dari seorang untuk bersikap angkuh dan menghina orang lain.[8]
Telah digambarkan diatas nasihat Lukman kepada anaknya, yaitu nasihat untuk tidak menyombongkan diri, dan jangan berjalan dengan angkuh. Karena itu merupakan perbutan yang tidak disukai oleh Allah SWT.
Nilai pendidikan yang bisa kita ambil dari ayat ini adalah etika dalam berbicara atau berdialog untuk tidak merendahkan orang yang kita ajak bicara atau bertukar fikiran. Ayat ini mengajarkan kita konsep berdialog antara sesama manusia. [9]
7.      Q.S Lukman[31] Ayat 19.
ôÅÁø%$#ur Îû šÍô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎŽÏJptø:$# ÇÊÒÈ  
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182][10] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Kata ( وَا قْصِدْ فى مَشْيِكَ ) “dan sederhanalah kamu dalam berjalan”. Yaitu berjalan secara sederhana maksudnya adalah tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat namun adil yaitu mengambil pertengahan. Kata (وَاْ غْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ)  “dan lunakkanlah suaramu.” Yaitu janganlah kamu berlebihan dalam berbicara dan jangan mengeraskan suara pada sesuatu yang tidak bermanfaat.[11]
Sehingga, dari itulah Allah SWT berfirman: (اِن اَنكَرَ اْلأصْوَاتِ لصَوْتُ الحمير) “Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”. Mujahid dan banyak Ulama berkata: perumpamaan keledai orang yang mengangkat suaranya tinggi-tingi, disamping itu merupakan hal yang dimurkai oleh Allah.
Nilai pendidikan yang bisa kita ambil jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, yaitu: dalam berbicara kita harus bertutur yang sopan dan tidak berlebihan dan ini terkait dengan etika dalam diskusi.



















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari ayat 13-19 tiga kali di sebutkan يبُنَيَّ  itu mengisyaratkan dalam mengajar anak harus dilandaskan dengan panggilan kasih sayang, agar hati anak luluh dan mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tua. Diatas juga sudah dijelaskan bahwasanya kita harus terus-terus menasehati, ini merupakan metode yang dilakukan oleh Lukman Hakin dalam mendidik anaknya. Dalam bergaul dengan orang tua, kita harus berlaku santun. Kemudian, kita harus mempersiapkan bekal pendidikan yang mantap kepada anak, karena ajal tidak diketahui kapan datangnya.












DAFTAR PUSTAKA
Alu Syaikh, Abdurrahman Bin Ishaq. TAFSIR IBNU KATSIR Jilid 4. Jakarta: Pustaka imam Asy- Syafi’i
Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH Pesan, Kesan dan Keserasian Al-qur’an. Jakarta : Lentera Hati Volume 11.
http://safardanial21.blogspot.co.id/2015/05/tafsir-ayat-pendidikan-anak-qs-luqman.html





[1] Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISBAH pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Lentera hati. Vol 11, hlm. 127.
[2] ibid
[3] [1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[4] Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISBAH pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Lentera hati. Vol 11, hlm. 129.
[5] Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISBAH pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera hati. Vol 11, hlm. 132.
[6] http://safardanial21.blogspot.co.id/2015/05/tafsir-ayat-pendidikan-anak-qs-luqman.html
[7] [1181] Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.

[8]  Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISBAH: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera hati. Vol 11, hlm. 139.
[9] Ibnu Katsir dalam tafsir Al-qur’anul Adzim, Kairo, 2000: 56.
[10] [1182] Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.
[11] Alu Syaikh, Abdurrahman Bin Ishaq. TAFSIR IBNU KATSIR Jilid 4. Jakarta: Pustaka imam Asy- Syafi’I, Hal 784.